Mari kita bersepakat untuk tidak sepakat bahwa senja adalah keindahan yang berujung selamanya. Dibalik keindahan yang memanja, dia akan berujung tiada. Dibuat terpesona akan keindahannya, juga diperangkap oleh gulita yang mengikut dibelakangnya.
Aku ingat, bahwa engkau
selalu memuja senja. Selalu menyepi dipinggir pantai, mendermakan senyum simpulmu
kepada secuil cerita, dihadirkan semesta yang menjadi rutinitasnya. Dan aku,
seolah terhipnotis —saat yang selalu kutunggu— untuk ikut tersenyum melihat
senyummu.
Kepada senja, ini
tentang pembelajaran.
Kepada senja, aku
belajar melupakan. Meninggalkan setiap jejak yang dibangun semenjak pagi,
menarik rindu yang dibungkus bisu karena lidah terlalu kelu untuk mengucap itu.
Kepada senja aku belajar sekaligus mendapat kepastian, bahwa melupakanmu adalah
ketidak mampuan yang dapat dipastikan.
Kepada senja, aku
belajar tentang makna keterpisahan. Semanis dan seindah apapun kisah dan
kenangan, tentu akan berakhir dengan perpisahan. Namun satu hal yang membuatku
menikmati perpisahan, adalah perpisahan tak melulu tentang kesedihan. Engkau
tak pernah memutus senyum bahkan dikala senja memulai drama dengan siluetnya.
Padahal engkau pun tahu, bahwa senja sejatinya fana.
Merelakan kepergian,
tak berarti siap berdamai dengan kerinduan.
“aku
tahu jika senja akan berakhir dengan gulita. Tapi siapa yang mampu melapangkan
hati layaknya senja dikala keindahan yang mereka cipta dipastikan berakhir
dengan keterpurukan setelahnya?”

0 comments:
Post a Comment