Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Friday, 1 May 2015

Berdamai Dengan Rindu



Mari kita bersepakat untuk tidak sepakat bahwa senja adalah keindahan yang berujung selamanya. Dibalik keindahan yang memanja, dia akan berujung tiada. Dibuat terpesona akan keindahannya, juga diperangkap oleh gulita yang mengikut dibelakangnya.

Aku ingat, bahwa engkau selalu memuja senja. Selalu menyepi dipinggir pantai, mendermakan senyum simpulmu kepada secuil cerita, dihadirkan semesta yang menjadi rutinitasnya. Dan aku, seolah terhipnotis —saat yang selalu kutunggu— untuk ikut tersenyum melihat senyummu.

Kepada senja, ini tentang pembelajaran.

Kepada senja, aku belajar melupakan. Meninggalkan setiap jejak yang dibangun semenjak pagi, menarik rindu yang dibungkus bisu karena lidah terlalu kelu untuk mengucap itu. Kepada senja aku belajar sekaligus mendapat kepastian, bahwa melupakanmu adalah ketidak mampuan yang dapat dipastikan.

Kepada senja, aku belajar tentang makna keterpisahan. Semanis dan seindah apapun kisah dan kenangan, tentu akan berakhir dengan perpisahan. Namun satu hal yang membuatku menikmati perpisahan, adalah perpisahan tak melulu tentang kesedihan. Engkau tak pernah memutus senyum bahkan dikala senja memulai drama dengan siluetnya. Padahal engkau pun tahu, bahwa senja sejatinya fana.

Merelakan kepergian, tak berarti siap berdamai dengan kerinduan. 

“aku tahu jika senja akan berakhir dengan gulita. Tapi siapa yang mampu melapangkan hati layaknya senja dikala keindahan yang mereka cipta dipastikan berakhir dengan keterpurukan setelahnya?”

0 comments:

Post a Comment