Dalam lembar pertama,
kita masih enggan bertegur sapa. Perbincangan yang tercipta, pun tak lebih dari
sekedarnya. Berawal dari rasa dan ingin yang sama, akhirnya kita dipertemukan
oleh suatu dermaga, tempat hati merindu mencari suka.
Melalui tinta, aku coba
mengenang cinta. Mengorek kenangan yang mulai terkikis lalai. Aku Merangkai
kata hingga berujung makna, memulai kisah dari beribu masa silam, lalu tercipta
kita menjadi pelaku utama.
Perahu layar
bernahkodakan tawa akhirnya terbentang. Mulai bergerak disaat angin harapan
berhembus pelan. Mengharu biru bersama laut bertemankan tantangan. Disepanjang
jalan kita mengukir kisah, yang tak ingin berujung sampai batu nisan menanda
pisah.
Layaknya seorang pelaut
ulung. Pun kita membusung dada menantang badai. Berteriak tak akan goyah
meskipun goncangan pecah membelah.
Tapi..
Akhirnya Tuhan memberi sapaan.
Ingatkan kita yang sejatinya hanya daun yang akan layu berujung gugur.
Perpisahan..
Satu kata yang
coba dihadirkan Tuhan. Hingga akhirnya membuat kita terdiam. Mengubah tawa
menjadi duka, mengganti lautan senyum menjadi telaga airmata.
Disini, kita akhirnya menyadari
akan tiba suatu hari yang membawa kita ke ujung petang. Mengingatkan bahwa
perjalanan telah mencapai titik haluan. Mengharuskan kapal bersandar di dinding
pelabuhan.
Tapi kenanglah. Setiap
kisah yang telah tertulis, tak akan hilang meskipun hati mulai terkikis. Perpisahan
ini hanyalah sebuah awal.Sebuah mula yang dihadirkan
Tuhan supaya menjadi suatu kenang. Mari simpan kisah ini disudut hati, sampai
akhirnya kita bertemu di taman firdaus tempat kita memulai kisah yang baru nanti.
Aku berjanji, ditempat
itu akan kubuat kita mencurahkan segala isi dengan sepuas hati. Tapi
sekarang, mari kita bersama menutup lembaran buku ini. Menutupnya agar kelak
bisa dibuka kembali.

Teruntuk alm. dedy, tsk tahu kenapa hari ini ayuk membaca ini, begitu paripurna Allah menciptakan engkau dengan ribuan aksara yang menyentuh, engkau penulis yang mampu menggetarkan hati pembacanya. engkau menulis dari hati hingga saat ini, setelah beberapa tahun engkau menulis kumpulan aksara ini yang akhirnya menguatkan orang-orang yang merindukan sosok mu. selamat jalan teman selamat jalan adik semoga kelak kita berjumpa lagi, tak mampu hari ini menulis apapun tentang kebaikan mu namun Allah tahu apa yang telah menjadi HAk mu, terimakasih telah menulis, terimakasih telah memberi ruang untuk dikenang, benar katamu "sebelum pulang hal yang dilakukan adalah mengenang".
ReplyDeleteAku selalu saja dibuat iri pada mu kak . Baik ibu maupun bapak bahkan sekalipun Dia lebih menyayangimu . Maaf kak tahun ini adikmu gagal masuk perguruan tinggi
ReplyDeleteMaaf karna sampai saat ini masih belum (tidak) bisa menggantikan posisi mu .