Mendekatlah.
Duduklah
bersamaku berdua. Menikmati pagi yang mungkin saja akan membuat mentari malu
karena kala itu, tiada lain yang tercipta selain romansa. Semula apapun mentari
coba untuk berkuasa, kau harus tahu, rindu ini akan selalu lebih pertama.
Duduk
bersamamu mencipta surga. Di saat itu aku bisa leluasa mengeja matamu yang
indah, lebih indah dari segala yang pernah dicipta kisah. Saat engkau bicara,
tak ada laku selain yang ku bisa : menjadi penyadap amatir dan merekam semesta
aksara yang kau eja—dan aku akan memaki sendiri saat aku terlewat, bahkan satu
huruf yang kau ucap.
Ketika pagi,
suatu paling yang ku suka adalah melihat wajahmu yang masam, terlihat kusut sebab kantuk memang berhasil menculikmu dariku semalaman. Lalu engkau
menggerutu kepadaku sebab tak pernah mampu mengalihkan padangan dari wajahmu.
“Mengapa harus beralih saat disana aku berhasil membumihanguskan rindu yang tak
terejawantahkan ?”
Debarku
semakin tak tahu diri saat engkau pertama kali menderma senyum kepada fakir.
Dan aku adalah fakir dalam kisah ini. Bahkan untuk mendapatkan itu, aku harus
berjibaku dengan setiap pagi. Kau tahu ? Pagi adalah rivalku yang selalu
berusaha merebut perhatianmu.
“Pagi selalu menawarkan hal yang baru.” Ucap itu yang pertama kali engkau
lontarkan kepadaku.
Aku mendengus kesal. “Sial.” Pagi kembali mampu merenggut perhatianmu, lagi.
Aku mendengus kesal. “Sial.” Pagi kembali mampu merenggut perhatianmu, lagi.
“Tapi pagi bersamamu adalah candu. Dan aku
berterima kasih sebab engkau telah membersamai disetiap pagiku. semenjak pagi
kemarin, dan pagi pertama yang ku temui di pagi itu.” Lanjutmu lembut.
Membuatku hanyut.
Tuhan.
Terima Kasih. Engkau telah mentitipkan ciptaanmu yang paripurna kepada hamba.
Terima Kasih. Engkau telah mentitipkan ciptaanmu yang paripurna kepada hamba.
~

0 comments:
Post a Comment