Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Tuesday, 12 January 2016

Pagi Bersamamu






Mendekatlah.

Duduklah bersamaku berdua. Menikmati pagi yang mungkin saja akan membuat mentari malu karena kala itu, tiada lain yang tercipta selain romansa. Semula apapun mentari coba untuk berkuasa, kau harus tahu, rindu ini akan selalu lebih pertama.

Duduk bersamamu mencipta surga. Di saat itu aku bisa leluasa mengeja matamu yang indah, lebih indah dari segala yang pernah dicipta kisah. Saat engkau bicara, tak ada laku selain yang ku bisa : menjadi penyadap amatir dan merekam semesta aksara yang kau eja—dan aku akan memaki sendiri saat aku terlewat, bahkan satu huruf yang kau ucap. 

Ketika pagi, suatu paling yang ku suka adalah melihat wajahmu yang masam, terlihat kusut sebab kantuk memang berhasil menculikmu dariku semalaman. Lalu engkau menggerutu kepadaku sebab tak pernah mampu mengalihkan padangan dari wajahmu. “Mengapa harus beralih saat disana aku berhasil membumihanguskan rindu yang tak terejawantahkan ?”

Debarku semakin tak tahu diri saat engkau pertama kali menderma senyum kepada fakir. Dan aku adalah fakir dalam kisah ini. Bahkan untuk mendapatkan itu, aku harus berjibaku dengan setiap pagi. Kau tahu ? Pagi adalah rivalku yang selalu berusaha merebut perhatianmu.

Pagi selalu menawarkan hal yang baru. Ucap itu yang pertama kali engkau lontarkan kepadaku. 

Aku mendengus kesal. “Sial. Pagi kembali mampu merenggut perhatianmu, lagi.

Tapi pagi bersamamu adalah candu. Dan aku berterima kasih sebab engkau telah membersamai disetiap pagiku. semenjak pagi kemarin, dan pagi pertama yang ku temui di pagi itu.” Lanjutmu lembut. Membuatku hanyut.

Tuhan.

Terima Kasih. Engkau telah mentitipkan ciptaanmu yang paripurna kepada hamba.
 



~

0 comments:

Post a Comment