Ceritakan
padaku tentang kisah yang paling pilu. Aku akan menunggu sampai engkau
bercerita semampumu. Tapi maaf, rasanya tiada kisah yang paling pilu di luar
kisah ini—tentang aku yang selalu menunggu, mengharapkan sesuatu yang lebih
dari sekedar engkau yang meluangkan waktu.
Dalam kepalaku yang satu, segalanya begitu ramai ketika doa yang ku rapalkan sampai kepada tentangmu. Melangitkan doa secara perlahan, hingga sampai ke telinga Tuhan—Sang penguasa rindu, sekaligus temu. Aku percaya, Tuhan pasti bertanggu jawab dengan semua rindu yang Dia ciptakan. Menciptakan rindu, berarti bersiap untuk menerima jama’ah doa yang mengharap agar pertemuan segera dihadirkan oleh waktu. Termasuk aku, tentu.
Dalam kepalaku yang satu, segalanya begitu ramai ketika doa yang ku rapalkan sampai kepada tentangmu. Melangitkan doa secara perlahan, hingga sampai ke telinga Tuhan—Sang penguasa rindu, sekaligus temu. Aku percaya, Tuhan pasti bertanggu jawab dengan semua rindu yang Dia ciptakan. Menciptakan rindu, berarti bersiap untuk menerima jama’ah doa yang mengharap agar pertemuan segera dihadirkan oleh waktu. Termasuk aku, tentu.
Dan
malam boleh saja tentang mereka yang sedang menikmati secangkir kopi.
Menyeruput hangatnya, yang meskipun terbatasi oleh gelas-gelas kaca, mereka
bisa tertawa kerena mereka menikmatinya berdua.
Begitupun
Senja. Sah-sah saja tentang keindahan yang tiada tanding ketika mentari telah
berada diujung, dan ia menari begitu anggun mempertontonkan suatu panorama yang
membuat semua hati mengharapkan kenangan itu tak berujung.
Tapi
aku, rasanya harus segera menuntut agar penangguhan jumpa dan rasa rindu yang
kian menggerutu agar segera diselesaikan. Diputuskan.
Karena
aku tahu, kita adalah dua peristiwa yang memang seharusnya menjadi satu. Setidaknya,
itu menurutku.

0 comments:
Post a Comment