Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Tuesday, 23 September 2014

Terlambat


Malam ini, jika engkau sedang memandang bulan, maka yakinlah bahwa kita sedang memandang bulan yang sama. Menggantungkan asa agar jarak memberikan sedikit belas kasihannya kepada dua insan yang merindu akan datangnya jumpa.

Mengartikan Kegelapan


Ini tentang kegelapan.

Sebuah kondisi yang katanya tiada. Sebuah situasi yang sebenarnya hanyalah kekurangan cahaya, dan tidak sedikit orang yang enggan berkarib dengannya. Lebih memilih menikmati surya, meski itu berasal dari secuil pelita.

Thursday, 26 June 2014

Pagi Yang Hujan Di Kota Hujan



Pagi ini, kita terbangun oleh gemericik yang dilahirkan hujan rintik. Memaksa kelopak mata tuk terbuka dan beranjak menjemput fana. Menghentikan mimpi, membangunkan rindu yang sebelumnya telah mati− meskipun akhirnya kutahu bahwa itu hanya sementara.

Wednesday, 4 June 2014

Kau Tahu ?


Kau tahu rasanya punya kuasa untuk bicara namun tiada mampu untuk mengucap kata ? tataplah mataku selama kau bisa. Takperlu engkau menyertakan senyum manis dari bibirmu yang tipis itu untuk turut serta, sebab bahkan tanpa itupun, aku telah takluk tiada daya.

Sunday, 30 March 2014

Awalnya Jumpa





Awalnya jumpa, lalu tercipta suatu ceri(t)a. Menjadi jejak, penuntun para pengelana dikala terlalu lama mengembara.  Menggurat cerita diujung senja, namun akhirnya tiada seiring malam bertahta.

Sunday, 16 March 2014

Ayah.. Anakmu Sedang Rindu




Sinar mentari dikala senja selalu jadi pertanda bahwa engkau akan pulang. Aku dikala itu akan selalu menunggumu dibalik sudut-sudut gang. Bersiap menyambutmu dengan raut muka yang selalu girang.

Saturday, 15 March 2014

Aku



Mungkin memang harus menulis bait untuk sekedar menyampaikan asa yang telah membubung tinggi menyentuh langit. Mengemis kepada para Dewa untuk sekedar memberi penawar rasa yang  terlanjur menakdirkan hati untuk terluka. 

Wednesday, 19 February 2014

Malam Itu



Malam itu, aku tersadar jika aku memang telah kalah. Ditaklukkan oleh kenyataan yang dari awal memang telah kulawan. Berjalan menelurusi jejak-jejak percakapan yang mulai disapu bersih oleh kekecewaan. Mengantarkan hampa sampai menusuk kedalam urat nadi yang paling dalam.

Semenjak goresan ini tercipta, seluruh dunia, pun sebenarnya telah tahu akan akhirnya. Aku selalu berharap bahwa kau dan aku adalah satu yang akhirnya bernama lengkap. Namun sang waktu akhirnya memberikan jawab, menertawakan keegoisanku yang memuncak memenuhi sesak.

Thursday, 13 February 2014

Aku Bukan Milikmu



Menjelang langit pudar menghitam, kita bersimpuh luruh bermandi peluh. Jauhnya jarak yang kita tempuh, pun seolah melepuh saat kau manja mengeluh. Malam itu begitu sempurna, purnama serta kejora seolah bertahta bagaikan raja dan permaisurinya diatas langit yang hitam berselimut malam.

Kala itu, yang ada hanyalah kita—berdua. Kau tahu ? Aku begitu lama menanti datangnya saat itu. Banyak cerita yang berada diujung lidah hingga membuatnya semakin kelu. Mengunggu. Menanti temu saat yang tepat untuk menuju pintu telinga lembutmu.

Thursday, 30 January 2014

Kisah Tak Bertuan


Menjelang  hari berakhir, aku justru semakin tersesat dalam keraguan. Tak ada semangat untuk melanjutkan perjalanan yang dulu telah kuukir diatas pijarnya kesempatan.

Sebelum detik ini berdetak, alur pikir setuju untuk sepakat bahwa purnama adalah pemberi terang dikala gulita malam. Tapi nyatanya aku lupa, aku turut larut dalam nuansa keindahan yang sejatinya itu akan berakhir disaat gerhana menjelang.

Friday, 24 January 2014

Padamu



Aku bersyukur kepada hujan. Padanya aku banyak menemukan keteduhan. Kehadirannya mampu menahanmu mengayun langkah. Hingga akhirnya menyempatkan kita mencipta kisah, yang perlahan membuatku mulai melupa pilu dimasa silam. Mencoba membangun harapan pada luas halaman yang kau bentangkan.

Monday, 13 January 2014

Jalan



Aku tak pernah lupa bahwa hidup adalah pilihan. Namun dari sekian banyaknya kesempatan, aku tak pernah ingin menjadi jalan.

Jalan..