Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Thursday, 26 June 2014

Pagi Yang Hujan Di Kota Hujan



Pagi ini, kita terbangun oleh gemericik yang dilahirkan hujan rintik. Memaksa kelopak mata tuk terbuka dan beranjak menjemput fana. Menghentikan mimpi, membangunkan rindu yang sebelumnya telah mati− meskipun akhirnya kutahu bahwa itu hanya sementara.

Aku selalu suka pagi, karena padanya akan banyak pengharapan−tentang engkau−yang siap tuk kujumpai.

Kicau burung.
Embun yang bergelayut lembut.
Sejuk udara yang seolah mampu mendikte waktu untuk termangu membisu.
Semua itu tercipta dalam masa yang sama.

Namun pagi ini berbeda.
Di kota yang penuh cerita−tentang kita, hujan sedang bertamu dengan santunnya. Menunda langkah yang siap menjemput harap. Menahan kaki yang siap menjemput janji. 

Pun pagi ini, aku tahu, bahwa dijalan ujung engkau tengah menunggu. Menantiku meneguhkan hati, berirkrar tuk melepas beban yang sejak lama sesak disanubari. 

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti mentari pagi yang tak pernah menjanjikan suatu apa, namun tak pernah alpa dikala langit menakdirkan untuk selalu memberikan sinarnya.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Layaknya purnama yang selalu dinanti, meskipun tiada sekalipun mengumbar janji.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dan melalui hujan yang berawal  dari pagi di kota hujan, aku menyadari, saat mentari kembali bersinar di esok pagi, tanpamu detak ini akan pasti berhenti, karena tiada lagi sosok yang mampu menghidupi.

0 comments:

Post a Comment