Pagi ini, kita
terbangun oleh gemericik yang dilahirkan hujan rintik. Memaksa kelopak mata tuk terbuka dan beranjak menjemput fana. Menghentikan mimpi, membangunkan rindu yang sebelumnya
telah mati− meskipun akhirnya kutahu bahwa itu hanya sementara.
Aku selalu suka pagi,
karena padanya akan banyak pengharapan−tentang engkau−yang siap tuk kujumpai.
Kicau burung.
Embun yang bergelayut
lembut.
Sejuk udara yang seolah
mampu mendikte waktu untuk termangu membisu.
Semua itu tercipta
dalam masa yang sama.
Namun pagi ini berbeda.
Di kota yang penuh
cerita−tentang kita, hujan sedang bertamu dengan santunnya. Menunda langkah
yang siap menjemput harap. Menahan kaki yang siap menjemput janji.
Pun pagi ini, aku tahu,
bahwa dijalan ujung engkau tengah menunggu. Menantiku meneguhkan hati, berirkrar tuk
melepas beban yang sejak lama sesak disanubari.
Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana, seperti mentari pagi yang tak pernah menjanjikan
suatu apa, namun tak pernah alpa dikala langit menakdirkan untuk selalu
memberikan sinarnya.
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana. Layaknya purnama yang selalu dinanti, meskipun tiada
sekalipun mengumbar janji.
Aku ingin mencintaimu
dengan sederhana. Dan melalui hujan yang berawal dari pagi di kota hujan, aku menyadari, saat
mentari kembali bersinar di esok pagi, tanpamu detak ini akan pasti berhenti, karena tiada lagi sosok yang mampu menghidupi.

0 comments:
Post a Comment