Kau
tahu rasanya punya kuasa untuk bicara namun tiada mampu untuk mengucap kata ?
tataplah mataku selama kau bisa. Takperlu engkau menyertakan senyum manis dari
bibirmu yang tipis itu untuk turut serta, sebab bahkan tanpa itupun, aku telah
takluk tiada daya.
Kau
tahu makna dari kata “Diam” ? Memendam rasa, namun hanya bisa mengutarakannya
pada langit dikala senja. Itulah yang kurasa dikala waktu menciptakan jumpa —
Antara kita.
Pertemuan
kita memang bukan layaknya sebuah sandiwara. Bukan disebuah perpustakaan
kemudian kita saling bertabrakan. Perjumpaan kita, pun takseperti dalam kisah
romansa, yang dipertemukan oleh taman bunga, dan aku menjumpaimu sedang duduk
tanpa teman bicara.
Kita
dipertemukan oleh waktu. Dalam masa-masa yang takmungkin kita tahan dan akan
terus berlalu. Yang membuat kita saling bertegur sapa tanpa disertai kata, yang
digantikan oleh rasa, sebab menyapamu melalui kata-kata hanya akan membuatku
kaku tanpa rupa.
Kau
tahu, menatap bola matamu sudah lebih dari cukup membuatku gagu.
Kau
tahu, berada didekatmu sudah lebih dari cukup membuatku lupa akan perjalanan
yang dihadirkan oleh sang waktu.
Bagiku,
sembunyi dalam sunyi adalah pilihan terbaik untuk mengelola isi hati.
Mengungkapkannya melalui puisi, yang kuakhiri dengan doa dikala malam semakin
kencang berlari menjemput sunyi.

0 comments:
Post a Comment