Awalnya jumpa, lalu tercipta suatu
ceri(t)a. Menjadi jejak, penuntun para pengelana dikala terlalu lama
mengembara. Menggurat cerita diujung
senja, namun akhirnya tiada seiring malam bertahta.
Barangkali terlalu hipokrit jika aku
mengatakan tak tergoyah oleh kata “pisah”. Tetap berjalan dalam kepura-puraan,
seolah mampu seutuhnya melepas seluruh kenangan. Namun sejatinya, aku hanya
mampu duduk termangu, merawat luka yang tanpa disangka disebab rupanya jumpa.
Kita memang selalu dipertemukan
waktu, bahkan tak jarang saling bertatap —sekalipun itu kaku. Tapi tiada lagi
kerelaan seperti dulu, yang selalu kita pegang disaat berjalan beriringan. “Dulu”. Kata itu yang akhirnya mampu
melahirkan tentang suatu yang lalu bernama kenangan
Entahlah bagaimana cara Tuhan
menakdirkan kisah perjalanan seseorang. Tapi dari perjumpaan ini akan suatu aku
paham, bahwa padamu tak mungkin aku mengatakan “pulang”. Dikala lelah aku
berjalan, disaat letih lantaran bosan menjalani kehidupan. Karena senyummupun
bahkan takmampu untuk sekedar kugenggam.
Aku masih terpenjara dalam kenangan,
yang ternyata sesak oleh ketiadaan. Merindukan tawa yang dulu menjadi penawar duka, sembari berharap waktu memberikan
sedikit kepekaannya.
Rindu.
Satu kata itu yang masih kurawat,
bahkan dalam setiap mimpiku.

0 comments:
Post a Comment