Sinar
mentari dikala senja selalu jadi pertanda bahwa engkau akan pulang. Aku dikala
itu akan selalu menunggumu dibalik sudut-sudut gang. Bersiap menyambutmu dengan
raut muka yang selalu girang.
Kepulanganmu
selalu berteman peluh. Namun raut wajahmu tampak selalu tersenyum utuh. Engkau
lantas turun dari sepeda yang kau kayuh. Menatapku sembari mengelus halus
rambut beserta kepala anakmu. Dikala itu diri ini akan selalu terpikir hal yang
sama, “akankah aku mampu untuk sekedar
membuatmu berhenti bermandi letih mengayuh sepeda tua ini?”
Bersama
sepeda tuamu, kau antar aku dikala pagi. Kau kayuh tanpa henti kecuali tiba di depan
gerbang sekolah negeri. Setelah sampai, akan ada ritual pagi yang selalu tak
sabar untuk kujalani—mencium tanganmu yang entah mengapa selalu menjadi cambuk
tuk jalani hari.
Aku
rindu dikala engkau yang akan selalu menjemputku. Mengingatkankau bahwa mentari
sudah lelah menemaniku bermain gundu dikala aku alpa untuk menjemputmu di sudut
gang itu. Dikala
itu, aku selalu berjanji —namun selalu kuingkari— akan menjemputmu dikala senja
esok hari. Tapi engkau justru tertawa, tawa yang takkan pernah sedetikpun akan
ku lupa.
Malam
ini, izinkan aku untuk menagisimu. Menangis karena aku memang belum mampu untuk
sekedar melepas bayang pelukmu. Disini. Aku yang selalu sendiri, takkan pernah
berani walau hanya sekedar untuk bermimpi.
Ayah.
Aku
rindu senyum itu. Aku rindu peluk itu. Aku rindu tangan lembut yang selalu
mengusap lembut kepalaku. Aku rindu saat-saat aku duduk dibelakang sembari
berpegang erat dipinggangmu dikala bersepeda bersamamu.
Ayah.. Anakmu ini
sedang rindu…

0 comments:
Post a Comment