Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Sunday, 16 March 2014

Ayah.. Anakmu Sedang Rindu




Sinar mentari dikala senja selalu jadi pertanda bahwa engkau akan pulang. Aku dikala itu akan selalu menunggumu dibalik sudut-sudut gang. Bersiap menyambutmu dengan raut muka yang selalu girang.

Kepulanganmu selalu berteman peluh. Namun raut wajahmu tampak selalu tersenyum utuh. Engkau lantas turun dari sepeda yang kau kayuh. Menatapku sembari mengelus halus rambut beserta kepala anakmu. Dikala itu diri ini akan selalu terpikir hal yang sama, “akankah aku mampu untuk sekedar membuatmu berhenti bermandi letih mengayuh sepeda tua ini?”

Bersama sepeda tuamu, kau antar aku dikala pagi. Kau kayuh tanpa henti kecuali tiba di depan gerbang sekolah negeri. Setelah sampai, akan ada ritual pagi yang selalu tak sabar untuk kujalani—mencium tanganmu yang entah mengapa selalu menjadi cambuk tuk jalani hari.

Aku rindu dikala engkau yang akan selalu menjemputku. Mengingatkankau bahwa mentari sudah lelah menemaniku bermain gundu dikala aku alpa untuk menjemputmu di sudut gang itu. Dikala itu, aku selalu berjanji —namun selalu kuingkari— akan menjemputmu dikala senja esok hari. Tapi engkau justru tertawa, tawa yang takkan pernah sedetikpun akan ku lupa.

Malam ini, izinkan aku untuk menagisimu. Menangis karena aku memang belum mampu untuk sekedar melepas bayang pelukmu. Disini. Aku yang selalu sendiri, takkan pernah berani walau hanya sekedar untuk bermimpi.

Ayah.

Aku rindu senyum itu. Aku rindu peluk itu. Aku rindu tangan lembut yang selalu mengusap lembut kepalaku. Aku rindu saat-saat aku duduk dibelakang sembari berpegang erat dipinggangmu dikala bersepeda bersamamu.

Ayah.. Anakmu ini sedang rindu…
 

0 comments:

Post a Comment