Mungkin memang harus menulis bait untuk sekedar menyampaikan asa yang telah membubung tinggi menyentuh langit. Mengemis kepada para Dewa untuk sekedar memberi penawar rasa yang terlanjur menakdirkan hati untuk terluka.
Selalu menyukai pagi.
Sebab bersamanya akan muncul pertanda bahwa gelap telah turun dari tahtanya,
menghentikan segala hampa yang membuncah sesak memenuhi jiwa.
Aku.
Selalu merindu daun
yang gugur. Diterpa angin namun tiada satupun sesal yang pernah menjadi
pembicaraan ranting. Darinya aku tahu, aku belajar keikhlasan untuk melepas
demi menjemput sesuatu —mungkin saja engkau— yang telah lama menanti.
Aku.
Memang terluka dikala
perpisahan mulai menjelang. Tetapi aku takkan pernah memaki perpisahan. Sebab
darinya aku menemukan paham, bahwa mencaci perpisahan akan sama artinya
dengan mengutuk pertemuan.
Aku.
Selalu menyisakan ruang
yang tak bernama. Menyebut namamu dalam setiap doa. Memohon kepada penguasa
nirwana untuk menggoreskan “kita” dalam sebuah aksara, lalu menyimpannya dalam
ruang itu, yang padamu tergenggam kuncinya.
Yakinlah bahwa bait ini
takkan membuat cintaku terkikis. Meskipun pada saat ini hati mulai melihat
gerbang yang berujung pada teriris.

0 comments:
Post a Comment