Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Saturday, 15 March 2014

Aku



Mungkin memang harus menulis bait untuk sekedar menyampaikan asa yang telah membubung tinggi menyentuh langit. Mengemis kepada para Dewa untuk sekedar memberi penawar rasa yang  terlanjur menakdirkan hati untuk terluka. 

Aku.
Selalu menyukai pagi. Sebab bersamanya akan muncul pertanda bahwa gelap telah turun dari tahtanya, menghentikan segala hampa yang membuncah sesak memenuhi jiwa.

Aku.
Selalu merindu daun yang gugur. Diterpa angin namun tiada satupun sesal yang pernah menjadi pembicaraan ranting. Darinya aku tahu, aku belajar keikhlasan untuk melepas demi menjemput sesuatu —mungkin saja engkau— yang telah lama menanti.

Aku.
Memang terluka dikala perpisahan mulai menjelang. Tetapi aku takkan pernah memaki perpisahan. Sebab darinya aku menemukan paham, bahwa mencaci perpisahan akan sama artinya dengan mengutuk pertemuan.

Aku.
Selalu menyisakan ruang yang tak bernama. Menyebut namamu dalam setiap doa. Memohon kepada penguasa nirwana untuk menggoreskan “kita” dalam sebuah aksara, lalu menyimpannya dalam ruang itu, yang padamu tergenggam kuncinya.

Yakinlah bahwa bait ini takkan membuat cintaku terkikis. Meskipun pada saat ini hati mulai melihat gerbang yang berujung pada teriris.

0 comments:

Post a Comment