Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Wednesday, 19 February 2014

Malam Itu



Malam itu, aku tersadar jika aku memang telah kalah. Ditaklukkan oleh kenyataan yang dari awal memang telah kulawan. Berjalan menelurusi jejak-jejak percakapan yang mulai disapu bersih oleh kekecewaan. Mengantarkan hampa sampai menusuk kedalam urat nadi yang paling dalam.

Semenjak goresan ini tercipta, seluruh dunia, pun sebenarnya telah tahu akan akhirnya. Aku selalu berharap bahwa kau dan aku adalah satu yang akhirnya bernama lengkap. Namun sang waktu akhirnya memberikan jawab, menertawakan keegoisanku yang memuncak memenuhi sesak.

Diantara kumpulan kebersamaan yang kita ciptakan, aku tertipu oleh debu yang bernama kepura-puraan. Gelak tawa yang kita hadirkan tak lebih dari sekedar dusta, rekah senyum yang kita harapkan rupanya sekedar utopis agar kita mampu melanjut cerita.

Betapa malam tetap akan menghadirkan ketenangan, meskipun purnama tak selalu datang. Menyejukkan hati yang terlanjur ditancap oleh kecewa yang teramat dalam. Dia selalu setia menemani insan yang bertetes air mata, yang terluka hatinya dikala harap sudah pasti takkan pernah menjadi ada.

Pun demikian malam itu.

Aku yang sejatinya orang tak tahu diri. Memaksakan kehendak yang tak sesuai dengan tinta yang tergores diatas aksara takdir, akhirnya tumbang dikala aku berada dititik akhir. Aku yang begitu percaya bahwa aliran sungai yang berisi penuh tentang aku—dan kau— akan berakhir dengan kisah yang menjadi penyempurna lengkap, akhirnya bersimpuh luruh meratap yang tak berjawab.

Mata sudah terlanjur buta, dan telinga telah lama tak lagi mendengar suara. Aku hanya bisa meraba dengan hati yang ternyata tak mampu melihat sandiwara. Sang waktu telah lama mengingatkan agar aku segera beranjak dari hari yang sedang kunikmati. Mengatakan bahwa hanyalah tangis yang pada akhirnya menemani. Tapi aku menolak, aku begitu yakin bahwa itu adalah kesalahan. Memantapkan hati bahwa sang waktu sedang dalam kealpaan. Yang pada akhirnya membuatku kaku dan tak tahu lagi makna dari sebuah cinta, disaat sang waktu menunjukkan sedikit kedigdayaannya.

Dia menyadarkanku akan engkau yang sejatinya tiada. Memperlihatkan bahwa harapku hanyalah sebuah hujan yang sedang turun di padang pasir. Meresap. Lalu kemudian lenyap.

0 comments:

Post a Comment