Malam itu, aku tersadar
jika aku memang telah kalah. Ditaklukkan oleh kenyataan yang dari awal memang
telah kulawan. Berjalan menelurusi jejak-jejak percakapan yang mulai disapu
bersih oleh kekecewaan. Mengantarkan hampa sampai menusuk kedalam urat nadi yang paling dalam.
Semenjak goresan ini
tercipta, seluruh dunia, pun sebenarnya telah tahu akan akhirnya. Aku selalu
berharap bahwa kau dan aku adalah satu yang akhirnya bernama lengkap. Namun
sang waktu akhirnya memberikan jawab, menertawakan keegoisanku yang memuncak
memenuhi sesak.
Diantara kumpulan
kebersamaan yang kita ciptakan, aku tertipu oleh debu yang bernama
kepura-puraan. Gelak tawa yang kita hadirkan tak lebih dari sekedar dusta,
rekah senyum yang kita harapkan rupanya sekedar utopis agar kita mampu melanjut
cerita.
Betapa malam tetap akan
menghadirkan ketenangan, meskipun purnama tak selalu datang. Menyejukkan hati
yang terlanjur ditancap oleh kecewa yang teramat dalam. Dia selalu setia
menemani insan yang bertetes air mata, yang terluka hatinya dikala harap sudah
pasti takkan pernah menjadi ada.
Pun demikian malam itu.
Aku yang sejatinya
orang tak tahu diri. Memaksakan kehendak yang tak sesuai dengan tinta yang
tergores diatas aksara takdir, akhirnya tumbang dikala aku berada dititik
akhir. Aku yang begitu percaya bahwa aliran sungai yang berisi penuh tentang
aku—dan kau— akan berakhir dengan kisah yang menjadi penyempurna lengkap,
akhirnya bersimpuh luruh meratap yang tak berjawab.
Mata sudah terlanjur
buta, dan telinga telah lama tak lagi mendengar suara. Aku hanya bisa meraba
dengan hati yang ternyata tak mampu melihat sandiwara. Sang waktu telah lama
mengingatkan agar aku segera beranjak dari hari yang sedang kunikmati.
Mengatakan bahwa hanyalah tangis yang pada akhirnya menemani. Tapi aku menolak,
aku begitu yakin bahwa itu adalah kesalahan. Memantapkan hati bahwa sang waktu
sedang dalam kealpaan. Yang pada akhirnya membuatku kaku dan tak tahu lagi
makna dari sebuah cinta, disaat sang waktu menunjukkan sedikit kedigdayaannya.
Dia menyadarkanku akan
engkau yang sejatinya tiada. Memperlihatkan bahwa harapku hanyalah sebuah hujan
yang sedang turun di padang pasir. Meresap. Lalu kemudian lenyap.

0 comments:
Post a Comment