Menjelang
langit pudar menghitam, kita bersimpuh luruh bermandi peluh. Jauhnya jarak yang
kita tempuh, pun seolah melepuh saat kau manja mengeluh. Malam itu begitu sempurna,
purnama serta kejora seolah bertahta bagaikan raja dan permaisurinya diatas
langit yang hitam berselimut malam.
Kala
itu, yang ada hanyalah kita—berdua. Kau tahu ? Aku begitu lama menanti
datangnya saat itu. Banyak cerita yang berada diujung lidah hingga membuatnya
semakin kelu. Mengunggu. Menanti temu saat yang tepat untuk menuju pintu
telinga lembutmu.
Detik
semakin berlalu menuju larut. Sekat antara kita semakin dekat sebab kita ingin
mencari hangat. Ketika semuanya senyap, kau mengucapkan kata yang memutus
segala upaya—bahwa kau adalah miliknya.
“Aku
bukan milikmu”
Ringan
sekali kata-kata itu meluncur dari muara lidahmu. Setelah sekian lama, dan alur
ini seolah begitu sempurna, ternyata semuanya hanyalah sia ketika kutahu bahwa
jiwamu telah berteduh dirimbun hatinya.
Ternyata,
selama ini aku terlalu hanyut dalam permainan duga. Mengira jika engkau adalah
kepingan rasa yang selama ini menyesatku disaat mencarinya. Kau dan aku kini
tak lebih dari sekedar sisa-sisa perasaan yang mengawang berteman bimbang. Ada
kejujuran disana, namun semuanya terasa sesak didada ketika bulatan air mulai
menetes dari pelupuk mata.
Malam
itu akhirnya memuram. Purnamapun mulai enggan menemani malam. Dia lebih memilih
diam dan membiarkan kisah kita hilang dihembus angin kekecewaan. Tiada lagi yang
perlu ditanyakan. Semuanya sudah terlesaikan dengan satu kalimat sederhana yang
mampu mengubah alur cerita.
“Aku
bukan milikmu”

0 comments:
Post a Comment