Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Thursday, 13 February 2014

Aku Bukan Milikmu



Menjelang langit pudar menghitam, kita bersimpuh luruh bermandi peluh. Jauhnya jarak yang kita tempuh, pun seolah melepuh saat kau manja mengeluh. Malam itu begitu sempurna, purnama serta kejora seolah bertahta bagaikan raja dan permaisurinya diatas langit yang hitam berselimut malam.

Kala itu, yang ada hanyalah kita—berdua. Kau tahu ? Aku begitu lama menanti datangnya saat itu. Banyak cerita yang berada diujung lidah hingga membuatnya semakin kelu. Mengunggu. Menanti temu saat yang tepat untuk menuju pintu telinga lembutmu.

Detik semakin berlalu menuju larut. Sekat antara kita semakin dekat sebab kita ingin mencari hangat. Ketika semuanya senyap, kau mengucapkan kata yang memutus segala upaya—bahwa kau adalah miliknya.

“Aku bukan milikmu”
Ringan sekali kata-kata itu meluncur dari muara lidahmu. Setelah sekian lama, dan alur ini seolah begitu sempurna, ternyata semuanya hanyalah sia ketika kutahu bahwa jiwamu telah berteduh dirimbun hatinya.

Ternyata, selama ini aku terlalu hanyut dalam permainan duga. Mengira jika engkau adalah kepingan rasa yang selama ini menyesatku disaat mencarinya. Kau dan aku kini tak lebih dari sekedar sisa-sisa perasaan yang mengawang berteman bimbang. Ada kejujuran disana, namun semuanya terasa sesak didada ketika bulatan air mulai menetes dari pelupuk mata.

Malam itu akhirnya memuram. Purnamapun mulai enggan menemani malam. Dia lebih memilih diam dan membiarkan kisah kita hilang dihembus angin kekecewaan. Tiada lagi yang perlu ditanyakan. Semuanya sudah terlesaikan dengan satu kalimat sederhana yang mampu mengubah alur cerita.
“Aku bukan milikmu”

0 comments:

Post a Comment