Menjelang hari berakhir, aku justru semakin tersesat
dalam keraguan. Tak ada semangat untuk melanjutkan perjalanan yang dulu telah
kuukir diatas pijarnya kesempatan.
Sebelum
detik ini berdetak, alur pikir setuju untuk sepakat bahwa purnama adalah pemberi terang dikala
gulita malam. Tapi nyatanya aku lupa, aku turut larut dalam nuansa keindahan
yang sejatinya itu akan berakhir disaat gerhana menjelang.
Jika
aku boleh berkata, ada banyak cerita yang akan sampai kepintu telinga. Namun
maaf, mungkin ini akan membawa akhir yang pilu sembari duka. Karenanya, aku
mencari—entah siapa, sedia menjadi muara, jika telaga air mata ini membuncah
keluar dari hulunya.
Indahnya senja akan jadi penyejuk mata tatkala
kita memandangnya, namun akhirnya hilang dan tergantikan oleh gelap gulita—malam
Sejuknya
semilir yang berhembus penyejuk hati, namun akhirnya menjelma sosok yang tak
pernah akan dinanti—badai
Deklarasi Amor Vincit Omnia yang begitu
digdaya, seolah tak lebih dari sekedar pengakuan semu atas pelarian yang tak kunjung bertemu harapan—ketidakpastian
Semerbak wangi mengharumkan hati, berganti duka
berselimut lembut air mata yang tiada tahu kapan habisnya—gugur bunga
Lalu akhirnya pun tiba
Ketika sebuah prolog yang begitu penuh dengan kisah
tawa dan seolah menjadi akhir yang tak sabar ingin dijumpa, berubah menjadi
akhir yang tak seorangpun pasti menginginkannya—kisah kita
Begitulah sang waktu menggores kisahku—dengannya.

0 comments:
Post a Comment