Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Thursday, 30 January 2014

Kisah Tak Bertuan


Menjelang  hari berakhir, aku justru semakin tersesat dalam keraguan. Tak ada semangat untuk melanjutkan perjalanan yang dulu telah kuukir diatas pijarnya kesempatan.

Sebelum detik ini berdetak, alur pikir setuju untuk sepakat bahwa purnama adalah pemberi terang dikala gulita malam. Tapi nyatanya aku lupa, aku turut larut dalam nuansa keindahan yang sejatinya itu akan berakhir disaat gerhana menjelang.

Jika aku boleh berkata, ada banyak cerita yang akan sampai kepintu telinga. Namun maaf, mungkin ini akan membawa akhir yang pilu sembari duka. Karenanya, aku mencari—entah siapa, sedia menjadi muara, jika telaga air mata ini membuncah keluar dari hulunya.

Indahnya senja akan jadi penyejuk mata tatkala kita memandangnya, namun akhirnya hilang dan tergantikan oleh gelap gulita—malam

Sejuknya semilir yang berhembus penyejuk hati, namun akhirnya menjelma sosok yang tak pernah akan dinanti—badai

Deklarasi Amor Vincit Omnia yang begitu digdaya, seolah tak lebih dari sekedar pengakuan semu atas pelarian yang  tak kunjung bertemu harapan—ketidakpastian

Semerbak wangi mengharumkan hati, berganti duka berselimut lembut air mata yang tiada tahu kapan habisnya—gugur bunga

Lalu akhirnya pun tiba

Ketika sebuah prolog yang begitu penuh dengan kisah tawa dan seolah menjadi akhir yang tak sabar ingin dijumpa, berubah menjadi akhir yang tak seorangpun pasti menginginkannya—kisah kita

Begitulah sang waktu menggores kisahku—dengannya.

0 comments:

Post a Comment