Aku tak pernah lupa bahwa hidup
adalah pilihan. Namun dari sekian banyaknya kesempatan, aku tak pernah ingin
menjadi jalan.
Jalan..
Setiap harinya aku akan bertemu
denganmu. Membersamai dalam menuju tujuan akhirmu. Dalam setiap detiknya akupun
melihatmu selalu menggebu, berharap agar segera sampai pada apa yang menjadi
harapmu.
Kita memang akan beriringan. Saling menemani disepanjang kisah yang terbentang di depan. Saling mencari tentang apa yang bisa dimiliki sembari mendalami apa yang kita ingini.
Selalu menyenangkan saat
menemanimu. Aku mampu melihat seluruh ekspresi wajah yang sedari dulu adalah
lugu. Menggerutu tatkala terhenti saat melaju, tertawa lepas saat jalurnya
tersedia hanya bagimu.
Hingga..
Bibir kecil kemudian menarik
membentuk senyum. Bola matapun akhirnya bertemu kagum. Itulah yang pasti
kulihat dari rautmu saat engkau tiba ditempat yang kau tuju. Langkah kakimu
segera berayun, melangkah menuju bilik tempat engkau mencari mau.
Lalu..
Saat itulah aku harus berpisah
denganmu. Sudah Tak ada alasan bagiku untuk bisa membuatmu tetap bersamaku.
Karena aku memang hanyalah sebuah jalan, yang memandu dan membantumu mengantar
ketujuan.
Dari kejauhan, aku hanya
melihat tanpa bisa menggapai. Berharap bisa terwujud dalam setiap detak.Tapi
itu hanyalah harap, yang pada akhirnya tergerus oleh arus ketidakberdayaan yang
semakin kalap.

0 comments:
Post a Comment