Aku bersyukur
kepada hujan. Padanya aku banyak menemukan keteduhan. Kehadirannya mampu
menahanmu mengayun langkah. Hingga akhirnya menyempatkan kita mencipta kisah, yang perlahan membuatku mulai melupa pilu dimasa silam. Mencoba membangun harapan pada luas
halaman yang kau bentangkan.
Padamu..
Aku
menaruh impian. Berharap kisah kita mampu dicatat para dewa. Menjadi
perbincangan para penghuni kahyangan. Agar tebincangkan oleh para insan di
zaman kelak. Sampai kita abadi menjalan kisah di nirwana.
Padamu..
Ombak
di lautan berdesir lembut. Mengantar rinduku ke dermaga hatimu. Menanti kau
sambut dan kau peluk masuk ke bilik hatimu yang lama tersendu. Seperti yang kau
tahu, aku bukan seorang pelaut ulung, yang mampu menantang badai dan memastikan
kapal tak menghantam batu karang.
Padamu..
Gelisah
dihatiku seolah menemu ajal. Engkau mampu menghadirkan kepastian yang lama
dicari oleh nurani. Memutus kesepian yang dirasa seorang adam, tatkala sedari
lama mengharap bertemu hawa.
Padamu..
Aku
mulai berani menyambut janji. Menepiskan semua keraguan yang muncul saat aku
mulai mencari pasti. Tak ada lagi kerisauan yang patut menjadi pertanyaan hati,
tatkala engkau mulai membuka pintu untuk menyambut hari.
Aku
sadar, sejauh apapun aku berlari. Akan tetap menuntutku kepada kisah ini. Sebab
disini, dikisah ini, aku terlanjur menitip hati. (ama)

0 comments:
Post a Comment