Malam itu, aku tersadar
jika aku memang telah kalah. Ditaklukkan oleh kenyataan yang dari awal memang
telah kulawan. Berjalan menelurusi jejak-jejak percakapan yang mulai disapu
bersih oleh kekecewaan. Mengantarkan hampa sampai menusuk kedalam urat nadi yang paling dalam.
Semenjak goresan ini
tercipta, seluruh dunia, pun sebenarnya telah tahu akan akhirnya. Aku selalu
berharap bahwa kau dan aku adalah satu yang akhirnya bernama lengkap. Namun
sang waktu akhirnya memberikan jawab, menertawakan keegoisanku yang memuncak
memenuhi sesak.

