Ini tentang kegelapan.
Sebuah kondisi yang
katanya tiada. Sebuah situasi yang sebenarnya hanyalah kekurangan cahaya, dan
tidak sedikit orang yang enggan berkarib dengannya. Lebih memilih menikmati
surya, meski itu berasal dari secuil pelita.
Tidak jarang aku selalu
bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia menciptakan kegelapan jika akhirnya hanya
membuat orang-orang merasa terkekang ?
Mengapa harus berjalan
sembari meraba ketika cahaya begitu derma menghadirkan surya, meski itu hanya
sekedar lewat sebatang lilin, atau mungkin melalui lampu jalan yang terangnya
tak seberapa.
Bagi mereka, gelap
adalah duka, yang hanya pantas diterima oleh orang-orang yang telah putus asa.
Namun bagiku sebaliknya, dalam gelap aku bisa menemukan ketenangan jiwa. Sebuah
kerelaan yang muncul tanpa disertai paksaan.
Bersamanya, ketenangan
akan pasti turut serta. Bersamanya, perjalanan memang akan tertahan dan tidak
sekencang saat kita dikelilingi cahaya. Namun, mengapa harus berjalan ? mengapa
enggan bertahan jika disana engkau mendapatkan ketenangan ?
Dalam gelap, aku
merasakan merdeka. Aku mampu membayang wajahnya yang sendu dengan sepuasnya. Menikmati
rindu yang menandakan bahwa perasaan ini tetap sama, yang enggan berubah ─dan akupun
enggan merubahnya─ dari awal semuanya bermula.
Jika aku dapat memilih,
tentu saja gelap akan mendapat tempat utama. Dan itu akan selalu dan selamanya.

0 comments:
Post a Comment