Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Tuesday, 23 September 2014

Mengartikan Kegelapan


Ini tentang kegelapan.

Sebuah kondisi yang katanya tiada. Sebuah situasi yang sebenarnya hanyalah kekurangan cahaya, dan tidak sedikit orang yang enggan berkarib dengannya. Lebih memilih menikmati surya, meski itu berasal dari secuil pelita.

Tidak jarang aku selalu bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia menciptakan kegelapan jika akhirnya hanya membuat orang-orang merasa terkekang ?

Mengapa harus berjalan sembari meraba ketika cahaya begitu derma menghadirkan surya, meski itu hanya sekedar lewat sebatang lilin, atau mungkin melalui lampu jalan yang terangnya tak seberapa.

Bagi mereka, gelap adalah duka, yang hanya pantas diterima oleh orang-orang yang telah putus asa. Namun bagiku sebaliknya, dalam gelap aku bisa menemukan ketenangan jiwa. Sebuah kerelaan yang muncul tanpa disertai paksaan.

Bersamanya, ketenangan akan pasti turut serta. Bersamanya, perjalanan memang akan tertahan dan tidak sekencang saat kita dikelilingi cahaya. Namun, mengapa harus berjalan ? mengapa enggan bertahan jika disana engkau mendapatkan ketenangan ?

Dalam gelap, aku merasakan merdeka. Aku mampu membayang wajahnya yang sendu dengan sepuasnya. Menikmati rindu yang menandakan bahwa perasaan ini tetap sama, yang enggan berubah ─dan akupun enggan merubahnya─ dari awal semuanya bermula.

Jika aku dapat memilih, tentu saja gelap akan mendapat tempat utama. Dan itu akan selalu dan selamanya.

0 comments:

Post a Comment