Malam ini, jika engkau sedang memandang bulan, maka yakinlah bahwa kita sedang memandang bulan yang sama. Menggantungkan asa agar jarak memberikan sedikit belas kasihannya kepada dua insan yang merindu akan datangnya jumpa.
Malam ini, jika engkau menatap rembulan, maka yakinlah bahwa kita sedang melihat bulan yang serupa. Yang membuatku teringat akan awal perjumpaan kita dalam malam disebuah gang diperempatan jalan, ketika engkau beranjak untuk pulang.
Malam itu, aku masih menganggap
bahwa semuanya terjadi tanpa sengaja. Kita dipertemukan oleh keadaan yang tanpa
disertai arti apa-apa.
Namun belakangan ini
aku sadar ─ yang tentunya itu sudah terlambat, jika itu adalah goresan semesta.
Sang pemilik Cinta akhirnya menegurku dan mengguruiku bahwa engkau adalah salah
satu estetika dari sebagian kecil kuasa−Nya.
Perjumpaan kita hanya
diawali dengan bertatap muka. Mencoba saling membaca lewat sinar bola mata. Ketika
itu, harus kuakui bahwa aku merasa bahwa aku rela mendermakan seluruh waktuku
dengan percuma. Menghentikan segala aktifitas demi mengabadikan momen kita.
Saat itu, engkau
memutus segalanya dengan secuil senyuman. Senyuman yang tanpa harus
kupertanyakan mengapa demikian.
Aku hanya mampu
membalasnya dengan sebuah sapaan.
“Hai..”
Namun engkau tetap
diam, sembari melangkahkan kaki melanjut perjalanan.

0 comments:
Post a Comment