Entahlah apa yang sedang direncanakan semesta.
Gemuruh hujan menerpa bumi sejak pagi. Menggenangi jalan yang membuat langkah —mau tak mau— harus terhenti. Dan itu sekaligus membuatku tak henti berpikir. Duka siapa yang ingin ia hapuskan ? Sembilu macam apa yang coba ia hilangkan ?
Sejauh pemahamanku, hujan diturunkan untuk dua perkara. Membasahi bumi yang
kemudian membuat semesta bersemi. Atau sebaliknya, menghapus kenangan duka bagi
mereka yang merawat luka — dan menurutku ini adalah analogi yang sengaja
dipaksakan bagi mereka yang terlalu pandai memanipulasi rindu yang
takberpulang: aku, salah satunya.
Pun, bila hujan hari ini sengaja Tuhan turunkan untuk menghapus duka yang bersemayam dalam selaksa dada, seharusnya ia tak henti mendera sejak kita jumpa pertama. Lalu ia akan berkali dalam setiap detiknya.
Atau mungkin hujan ini sengaja diturunkan untuk menghapus dukamu ? yang pernah kau ceritakan tentang duka di masa lalu yang kau simpan rapat-rapat dalam peti hatimu. Membuat dirimu menganggap cinta yang begitu dipuja oleh mereka yang sedang dijatuhinya tak lebih dari sekumpulan orang-orang patah hati yang tertunda. Engkau percaya, cinta taklebih dari sekedar kumpulan dusta yang sengaja dicipta, lalu dibungkus dengan pembenaran-pembenaran yang dipaksakan untuk menerimanya.
Namun bagiku. Entah apapun yang sedang direncanakan semesta dengan turunnya hujan yang mengguyur bumi tiada hentinya, aku setidaknya mampu mengenangmu untuk sedikit lebih lama. Membuka lembar tulisan tentangmu yang sangat mewakili estetika, lalu pergi bersama dengan setumpuk duka yang sampai saat ini aku pun belum menemukan penawarnya.
"Aku: tempat yang salah bila niat seseorang bersamaku adalah untuk menitipi cinta".
Itu. Katamu.
Pun, bila hujan hari ini sengaja Tuhan turunkan untuk menghapus duka yang bersemayam dalam selaksa dada, seharusnya ia tak henti mendera sejak kita jumpa pertama. Lalu ia akan berkali dalam setiap detiknya.
Atau mungkin hujan ini sengaja diturunkan untuk menghapus dukamu ? yang pernah kau ceritakan tentang duka di masa lalu yang kau simpan rapat-rapat dalam peti hatimu. Membuat dirimu menganggap cinta yang begitu dipuja oleh mereka yang sedang dijatuhinya tak lebih dari sekumpulan orang-orang patah hati yang tertunda. Engkau percaya, cinta taklebih dari sekedar kumpulan dusta yang sengaja dicipta, lalu dibungkus dengan pembenaran-pembenaran yang dipaksakan untuk menerimanya.
Namun bagiku. Entah apapun yang sedang direncanakan semesta dengan turunnya hujan yang mengguyur bumi tiada hentinya, aku setidaknya mampu mengenangmu untuk sedikit lebih lama. Membuka lembar tulisan tentangmu yang sangat mewakili estetika, lalu pergi bersama dengan setumpuk duka yang sampai saat ini aku pun belum menemukan penawarnya.
"Aku: tempat yang salah bila niat seseorang bersamaku adalah untuk menitipi cinta".
Itu. Katamu.
Saat aku coba untuk sedikit lebih berani membersamai
langkahmu.
~

0 comments:
Post a Comment