
Malam ini, aku mengenangmu—lagi. Kesedihan ini merayakan dirinya sendiri dalam pikiranku setiap kali. Menungguku lalai, lalu menghujani dengan kenangan yang ku cipta sendiri ; tentang senyummu yang mampu membuat waktuku terhenti. tentang diammu yang takmampu kuartikan, bahkan dalam sebuah mimpi.
Malam ini, aku
mengenangmu—lagi. Kesepian ini tidak penah benar-benar pergi. Aku seolah penyendiri yang merasa bahagia dan baik-baik
saja, namun menyimpan seribu hipokrit yang takpernah ingin aku mengakuinya ;
tentang cemasku yang takmampu ku tunda.
Malam ini, aku
mengenangmu—lagi. Ketakutan ini mengarah pada suatu hal yang sama. Sejauh apapun aku
berlari, aku akhirnya menyadari bila ternyata aku hanya berputar dalam
pikiranku sendiri ; yang dipenuhi imajinasi tentang perempuan yang tak mampu
kupahami.
Malam ini, aku
mengenangmu—lagi. Tergopoh memapah rindu seorang diri. Melahirkan sebuah
anomali, sebab mengenangmu hanya mampu kulakukan melalui puisi ; yang ku cipta
dan selalu menuai puji, namun bagimu taklebih dari sekedar kata-kata yang ku
gunakan hanya untuk pembenaran yang memanipulasi.
Malam ini, aku mengenangmu—lagi.
Lalu, perasaan ini menemukan kesimpulannya sendiri. Bahwa keinginanku adalah
tidak ingin engkau pergi.
Biarkan aku menunggumu.
Bahkan bila memang engkau tidak datang, biarkan aku memudar dalam kenangan.
Bersama detak arloji di tangan, bersama detik yang hilang tanpa suatu
kejelasan.
“apa kau baik-baik saja—dengan tanpaku saat ini tentunya ?”
~
0 comments:
Post a Comment