Aku kembali mengikis kegelisahan —tentangmu—
dengan cara menulis.
Dalam keping pertama, aku akan memulai cerita kali
ini bersebab dari selang sehari yang lalu. Mei ke dua puluh empat di tahun ini,
lebih tepatnya.
Ada kegelisahan yang meledak di sana. Ada
keputusasaan yang mendesak, sesak dibawanya.
Ini tentangmu yang selalu mampu mengubah seluruh
rencana. Ini tentangmu yang selalu bisa
membuatku merapalkan seluruh doa.
Dan aku, akan memulainya dengan satu pertanyaan
sederhana ; Apa kau tahu jatuh itu apa ?
Aku pernah bertanya pada ia yang dikecewakan. Ia
menatapku tajam tanpa ucapan, lalu meninggalkanku tanpa tujuan.
Jatuh,
seperih itukah ?
Aku pernah bertanya pada ia yang ditinggalkan. Ia
bungkam, bahkan menoleh pun enggan.
Jatuh,
semalang itukah ?
Aku pernah bertanya pada ia yang dicampakkan. Ia tak
bergeming, dengan tatapan kosong tanpa tahu kepada siapa ia mencari pengganti
sekaligus penyokong.
Jatuh,
serendah itukah ?
Lalu,
aku mendengarmu pun merasa jatuh —menjatuhkan diri, lebih tepatnya. Membuat
setiap inchi tubuhmu terasa begitu bahagia. Membuat dirimu merasa bahwa
akhirnya engkau mampu menuntaskan keinginan sekaligus mengutuhkan perasaan.
***
Jatuh, kau merasakannya dengan amat sangat berbeda.
Lalu aku ? tetap saja akumulasi dari jawaban-jawaban
jatuh yang tak kau rasakan dari semua yang ku ceritakan.
.

0 comments:
Post a Comment