Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Saturday, 28 December 2013

Sebuah Doa




Aku menikmati saat-saat kau tak acuhkan diriku. Membuat diriku semakin akrab dengan harap, tanpa perlu menanti datangnya jawab. Setiap rindu yang engkau hadirkan selalu tertuang dalam cerita, melahirkan berjuta makna, hingga akhirnya kurangkum dalam bentuk puisi sederhana.

 Malam baru saja berlalu. Meninggalkan sejuta pilu yang tak kunjung beradu temu. Aku mengutuk diriku yang tak berdaya mengucap kata-kata itu. Karena sejujurnya aku begitu takut jikalau aku harus kehilanganmu.

Hujan selalu setia bertemankan hembusan angin. Anginpun selalu tertawa tatkala hembusnya menghadirkan sejuk semilir.

Aku pun berharap demikian !

Berharap cerita kita berujung pada jurang tawa. Menghadirkan epilog yang membuat seluruh penonton terpana dan tak mampu berujar apa-apa.

Dari pernahnya aku mencintaimu, harap itu tak pernah berkurang. Dari saat ini aku mengharapmu, penantian itu tak kunjung hilang. Terlalu banyak jejak yang ditinggalkan kenangan. Membuat mata ini tak mampu terkatup tatkala itu melintas dipikiran.

Kini aku sadar bahwa aku tak sepenuhnya siap untuk bertemu kehilangan. Tak mampu kutahan meluapnya telaga air mata ketika engkau mengucap kata yang membuat hati kembali gersang.

Pada sang malam aku terus memanjatkan doa. Seraya berharap bahwa kehilanganmu adalah hal yang tak pernah ada.

0 comments:

Post a Comment