Aku menikmati saat-saat kau tak acuhkan diriku. Membuat diriku semakin akrab dengan harap, tanpa perlu menanti datangnya jawab. Setiap rindu yang engkau hadirkan selalu tertuang dalam cerita, melahirkan berjuta makna, hingga akhirnya kurangkum dalam bentuk puisi sederhana.
Malam baru saja
berlalu. Meninggalkan sejuta pilu yang tak kunjung beradu temu. Aku mengutuk
diriku yang tak berdaya mengucap kata-kata itu. Karena sejujurnya aku begitu
takut jikalau aku harus kehilanganmu.
Hujan selalu setia
bertemankan hembusan angin. Anginpun selalu tertawa tatkala hembusnya
menghadirkan sejuk semilir.
Aku pun berharap
demikian !
Berharap cerita kita
berujung pada jurang tawa. Menghadirkan epilog yang membuat seluruh penonton
terpana dan tak mampu berujar apa-apa.
Dari pernahnya aku
mencintaimu, harap itu tak pernah berkurang. Dari saat ini aku mengharapmu, penantian
itu tak kunjung hilang. Terlalu banyak jejak yang ditinggalkan kenangan. Membuat
mata ini tak mampu terkatup tatkala itu melintas dipikiran.
Kini aku sadar bahwa
aku tak sepenuhnya siap untuk bertemu kehilangan. Tak mampu kutahan meluapnya
telaga air mata ketika engkau mengucap kata yang membuat hati kembali gersang.
Pada sang malam aku terus
memanjatkan doa. Seraya berharap bahwa kehilanganmu adalah hal yang tak pernah
ada.

0 comments:
Post a Comment