Engkau berujar jikalau mawar ini sengaja kau beri, sebagai tanda ada ruang hati yang harus ku isi. Tak perlu waktu lama membuatku mengerti, karena itu adalah pemutus asa, pemutus rasa yang sedari dulu kunanti.
Tak bermaksud apa-apa,
aku disini hanya membagi cerita. Mawar itu telah ku tanam di suatu lapang. Bukan
di pekarangan, bukan pula di taman bunga. Melainkan di dalam hati.
Ya.. Itulah tempat
mawar itu kini bersemi.
Semakin hari mawar itu
tumbuh subur didalam hati. Disirami oleh aliran darah yang tak pernah berhenti.
Menebar wangi keseluruh sudut hati.
Tapi ada hal yang
membuatku takut saat ini. Ada perasaan was-was disetiap aku melirik kedalam
ruang hati. Mawar itu kini telah mulai menumbuhkan duri.
Ya.. Duri yang mulai
menusuk dinding-dinding hati.
Aku memang tak lupa
bahwa mawar adalah tumbuhan berduri, namun aku lupa jika mawar ini hanyalah bunga
yang kau titipi.
Aku takut akan datang
suatu hari. Timbul niatmu untuk mengambil mawar ini. Memetiknya dari pekarangan
hati, seraya mencipta luka di dalam sanubari. Sebab ku tahu, setiap duri yang
ada akan turut serta. Berpindah bersama mawar yang kau petik, hingga akhirnya
menyisakan luka yang akupun tak tahu entah apa obatnya.
Aku sengaja membagi cerita
ini, agar engkau tahu bahwa aku tak sanggup menahan luka yang bakal dicipta.
Aku hanya meminta,
biarkan mawar ini tumbuh di hati untuk selamanya. Hingga akhirnya Tuhan— sang
penciptanya memetik dan mengambilnya.

0 comments:
Post a Comment