![]() |
“Bro, hidup lo kalo di kampus
kura-kura banget ya.. ?”
“Apaan tuh kura-kura ?”
“Kuliah rapat-kuliah rapat”
Hahaha.. Lo bisa aja
sob…”
Sebagai
mahasiswa, sudah sewajarnya apabila ketika di kampus aku disibukkan dengan
berbagai tugas kuliah. Makalah, presentasi, review,
dan tes kecil adalah salah satu dari sekian banyak bagian-bagian kecil yang
menjadi “santapan” mahasiswa sehari-harinya. Status mahasiswa yang (katanya) sebagai agent of change tentunya akan semakin
memperparah (?) kondisi mahasiswa karena hal ini tentunya akan semakin
memberatkan “beban” mereka
Sama seperti halnya status yang sedang ku nikmati (?) saat ini. Saat ini aku sedang duduk di bangku semester 3 di jurusan yang sedang kujalani. Seperti kebanyakan mahasiswa lain pada umumnya, aku tentunya menginginkan agar seluruh proses dan tahapan dalam perkuliahan dapat kulalui sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Lulus 4 tahun, mendapatkan IPK—setidaknya 3, serta ketika setelah di wisuda langsung dapat bekerja dengan penghasilan yang layak.
Lantas
apakah hanya itu dunia kampus ? ternyata tidak ! dunia kampus tidak hanya
sekedar tentang proses memberi dan menerima antara dosen dan mahasiswa, tidak
hanya sekedar pergi pagi lalu pulang sore—bahkan malam demi mendapatkan
nilai yang layak menurut masyarakat. Dalam dunia kampus ternyata banyak sekali
dinamika-dinamika yang muncul saat kita berjalan beriringan bersama dengannya.
Salah satu dinamika dunia kampus adalah adanya organisasi.
Dalam
dunia kampus, terdapat banyak sekali berbagai jenis organisasi. Mulai dari
berdasarkan hobi, agama, dan bahkan ranah politik merupakan suatu hal yang
biasa bagi para aktivis—sebutan para pelakunya. Di organisasi, mahasiswa akan
dapat banyak belajar, mulai dari management waktu, pembagian kerja, pengambilan
keputusan, bahkan sampai harus rela mengorbankan sesuatu. Melalui organisasi
juga aku akhirnya menemukan sisi-sisi baru yang sama sekali tak pernah
terbayangkan sebelumnya. Organisasi terlah membuatku membaur dalam suatu hal
baru yang pada akhirnya “menyeretku” pada suatu komunitas baru.
Dalam
organisasi aku mendapatkan banyak hal baru. Aku disini belajar tentang
bagaimana cara mengefisienkan waktu, mengemban tanggung jawab besar yang bahkan
sama sekali tak pernah terpikirkan dalam benakku, serta yang paling terpenting
adalah membangun relasi.
Mengapa
ini menjadi penting ? aku menyadari
bahwa dunia yang saat ini sedang kuhadapi bukanlah fase terakhir dalam hidup.
Setelah dunia kampus, akan ada dunia yang lebih lebih sulit dan “menyeramkan”
ketimbang dunia kampus—dunia kerja. Berangkat dari hal itulah aku sadar bahwa
untuk menghadapi dunia itu, aku harus mencari cara supaya aku bisa setidaknya
bisa survive dan mampu
mengaktualiasikan jati diri.
Akan
tetapi, pada akhirnya segala keputusan yang akan kuambil nantinya tetap
tergantung padaku. Aku disini sebagai aktor utama, dan aku yakin bahwa aku
telah memiliki peran yang telah digariskan oleh-Nya. Terkadang dalam hidup kita
memang dihadapkan dengan berbagai pilihan serta konsekuensinya. Begitupun yang sedang
kuhadapi saat ini. Aku dihadapkan dengan master statusku di kampus—sebagai
mahasiswa yang prioritasnya adalah menyelesaikan tahapan dunia kampus dengan
cara yang telah ada, atau justru memilih komunitas yang pada akhirnya (semoga)
membantuku dalam fase kehidupan dunia yang selanjutnya. Itulah pilihannya !

0 comments:
Post a Comment