Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Sunday, 1 December 2013

Antara Prioritas Dan Komunitas





“Bro, hidup lo kalo di kampus kura-kura banget ya.. ?”

“Apaan tuh kura-kura ?”

“Kuliah rapat-kuliah rapat”
Hahaha.. Lo bisa aja sob…”
Sebagai mahasiswa, sudah sewajarnya apabila ketika di kampus aku disibukkan dengan berbagai tugas kuliah. Makalah, presentasi, review, dan tes kecil adalah salah satu dari sekian banyak bagian-bagian kecil yang menjadi “santapan” mahasiswa sehari-harinya. Status  mahasiswa yang (katanya) sebagai agent of change tentunya akan semakin memperparah (?) kondisi mahasiswa karena hal ini tentunya akan semakin memberatkan “beban” mereka

Sama seperti halnya status yang sedang ku nikmati (?) saat ini. Saat ini aku sedang duduk di bangku semester 3 di jurusan yang sedang kujalani. Seperti kebanyakan mahasiswa lain pada umumnya, aku tentunya menginginkan agar seluruh proses dan tahapan dalam perkuliahan dapat kulalui sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Lulus 4 tahun, mendapatkan IPK—setidaknya 3, serta ketika setelah di wisuda langsung dapat bekerja dengan penghasilan yang layak.
Lantas apakah hanya itu dunia kampus ? ternyata tidak ! dunia kampus tidak hanya sekedar tentang proses memberi dan menerima antara dosen dan mahasiswa, tidak hanya sekedar pergi pagi lalu pulang sore—bahkan malam demi mendapatkan nilai yang layak menurut masyarakat. Dalam dunia kampus ternyata banyak sekali dinamika-dinamika yang muncul saat kita berjalan beriringan bersama dengannya. Salah satu dinamika dunia kampus adalah adanya organisasi.
Dalam dunia kampus, terdapat banyak sekali berbagai jenis organisasi. Mulai dari berdasarkan hobi, agama, dan bahkan ranah politik merupakan suatu hal yang biasa bagi para aktivis—sebutan para pelakunya. Di organisasi, mahasiswa akan dapat banyak belajar, mulai dari management waktu, pembagian kerja, pengambilan keputusan, bahkan sampai harus rela mengorbankan sesuatu. Melalui organisasi juga aku akhirnya menemukan sisi-sisi baru yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya. Organisasi terlah membuatku membaur dalam suatu hal baru yang pada akhirnya “menyeretku” pada suatu komunitas baru.
Dalam organisasi aku mendapatkan banyak hal baru. Aku disini belajar tentang bagaimana cara mengefisienkan waktu, mengemban tanggung jawab besar yang bahkan sama sekali tak pernah terpikirkan dalam benakku, serta yang paling terpenting adalah membangun relasi.
Mengapa ini menjadi penting ?  aku menyadari bahwa dunia yang saat ini sedang kuhadapi bukanlah fase terakhir dalam hidup. Setelah dunia kampus, akan ada dunia yang lebih lebih sulit dan “menyeramkan” ketimbang dunia kampus—dunia kerja. Berangkat dari hal itulah aku sadar bahwa untuk menghadapi dunia itu, aku harus mencari cara supaya aku bisa setidaknya bisa survive dan mampu mengaktualiasikan jati diri.
Akan tetapi, pada akhirnya segala keputusan yang akan kuambil nantinya tetap tergantung padaku. Aku disini sebagai aktor utama, dan aku yakin bahwa aku telah memiliki peran yang telah digariskan oleh-Nya. Terkadang dalam hidup kita memang dihadapkan dengan berbagai pilihan serta konsekuensinya. Begitupun yang sedang kuhadapi saat ini. Aku dihadapkan dengan master statusku di kampus—sebagai mahasiswa yang prioritasnya adalah menyelesaikan tahapan dunia kampus dengan cara yang telah ada, atau justru memilih komunitas yang pada akhirnya (semoga) membantuku dalam fase kehidupan dunia yang selanjutnya. Itulah pilihannya !

0 comments:

Post a Comment