Pada mulanya sepi, tak terdengar pun kecuali sunyi. Rintik hujan mulai menghadirkan basah, menggoyangkan daun yang sedari awal sudah lemah. Dititik itulah kita bersua, memulai bincang yang akhirnya tak berujung petang. Engkau laksana telaga makna, yang menghadirkan kata, membentuk frasa, dan akhirnya melahirkan kita dalam jalan cerita.
Aku pernah mencintaimu.
Merapatkan hati dipijar senja, membagi makna dan menabur asa. Dirimu bak seorang
,malaikat. Menghadirkan firdaus dalam hati yang hampa. Membuat nafas tak
berhenti memuja. Kau dan aku, hanyalah dua insan pemalu. Yang menunggu namun
tak tahu kapan akan bertemu. Apapun itu, aku tahu bahwa mulai ada rasa rindu
disetiap aku mengingatmu. Rindu yang tercipta dari sebuah makna kehilangan. Tak
berujung sampai jumpa menjelang.
Bermula jumpa hingga
akhirnya bersemi rasa. Tak ada durja hingga sampai akhirnya jarak tercipta. Dari
jarak kita mengenal rindu. Tapi siapa yang menghadirkan jarak ? Tak ada
sesuatupun yang mampu menjawab.
Lewat sejuknya angin
kusampaikan rindu, berharap rasa itu akhirnya tiba dipintu hatimu. Aku tak tahu
apa yang akan kau perbuat dengan rasa rindu itu. Namun hati selalu mengharap
agar engkau membuka pintu, sembari menyambutnya sampai ke titik temu. Dan aku
tak pernah jemu menanti saat-saat itu.
Bermula darimu, aku
mengenal indah. Berawal darimu, aku merapat kepada harap.
Ini bukanlah akhir dari
sajak-sajakku. Akan banyak cerita yang menyusul timbul. Sampai akhirnya rindu
menghilang ditelan jumpa. Kapan ? Entahlah.

0 comments:
Post a Comment