![]() |
“Ciie.. Jadi tahun depan ceritanya mau lanjut lagi nih ?”
Itulah kira-kira kalimat yang kau ucapkan waktu itu.
“Kaya kamu ngga aja..”
Sahutku menimpali.
“Tahun depan aku udah ngga disini lagi. Ini adalah tahun (pertama dan sekaligus) terakhir bagiku disini”
Aku langsung tersenyum kecut mendengar kata-kata itu. Seketika itu juga tak ada hal lain yang mucul disaat kau mengucapkannya kecuali kegelisahan yang dalam hatiku. Tapi apa benar perasaan ini pantas disebut gelisah ? Untuk apa ? toh kau bukanlah siapa-siapa—setidaknya untuk saat ini.
Sebenarnya aku sudah lama mendengar wacana itu. Teman-temanmu telah sering mengatakan bahwa kau tidak akan mencalonkan diri kembali di organisasi kita saat ini. Namun aku tak pernah menanggapi serius tentang hal itu. Aku masih belum mempercayainya sebab selama aku bersamamu (di organisasi ini), yang kutemukan hanyalah raut keceriaan dan senyuman yang tiada hentinya dari bibir lesung pipitmu.
Aku masih terdiam. Kucoba kembali memutar rekaman mengenai dirimu yang tersimpan di dalam otakku. Rasanya bahkan baru kemarin ketika aku mengingat pertama kalinya kita dipertemukan oleh organisasi ini. Dan kau tau kesan yang muncul pertama kali ketika aku melihatmu ? Dingin ! kesan itulah yang kudapat ketika aku melihatmu untuk pertama kali.
Namun, seiring berjalannya waktu, dan semakin dekat aku mengenalmu. Konklusi yang timbul di awal perlahan memudar hingga akhirnya benar-benar menghilang. Semakin aku mencoba untuk mencari pembenaran terhadap kesan pertamaku, maka semakin aku temukan hal-hal yang sebetulnya sederhana, akan tetapi justru membuatku terpesona.
Mungkin hal yang bodoh ketika aku mengatakan bahwa aku bertahan di organisasi ini karena aku hanya ingin mencoba lebih dekat denganmu. Tapi itulah kenyataannya ! Tak jarang aku coba mengusir rasa ini, namun yang terjadi justru aku disini semakin terperangkap dalam imajinasi yang mengharapkan agar kau bisa kumiliki. Aku mencitaimu karena di dirimu aku menemukan suatu kesejukan. Engkau begitu memahami tentang apa yang ku inginkan tanpa harus bersusah payah menceritakannya. Hal itulah yang membuat aku begitu terkejut ketika mengetahui bahwa aku akan kehilanganmu.
Sampai saat ini, perasaanku memang masih tersimpan rapi didalam sanubari. Aku tak pernah mengungkapkannya kepada siapapun—termasuk kau, sebab aku merasa belum siap. Aku belum siap untuk kehilangan saat-saat yang kini begitu kunikmati. Aku begitu nyaman ketika kau sangat peduli terhadapku, mengerti keinginanku, dan begitu memahami perasaanku. Terlepas dari kau menyambut atau mengabaikan perasaan ini, aku berjanji bahwa pasti akan tiba suatu hari dimana engkau akan mengetahui apa yang telah kusimpan rapi. Akan kuungkapkan segala apa yang ada didalam hati, dan akupun akan siap dengan segala konsekuensi yang nantinya bakal kudapati.

0 comments:
Post a Comment