![]() |
Setiap harinya, begitu banyak momen-momen yang (kadang penting) namun secara tak sadar terlewatkan begitu saja. Satu hari terdiri dari 24 jam, atau 1440 menit, atau juga 86.400 detik. Dari sekian banyaknya jumlah waktu yang ku miliki setiap hari, terkadang aku lupa dan bahkan tidak jarang bingung bagaimana memanfaatkan jumlah waktu yang sebegitu banyak tersebut.
Begitupun hari ini. Entah kenapa, sejak mata ini terbuka, hati ini selalu gusar. Seolah begitu banyak beban dan masalah yang seolah menuntut untuk segera diselesaikan. Namun aku sendiripun bingung, hal apa yang berhasil membuat hati ini sangat gusar ? harus diakui bahwa ketika semakin lama menikmati (?) hidup, maka beban yang munculpun akan semakin banyak. Terlebih dengan kondisi lingkungan yang ada disekitarku. TERUTAMA KAU !!
Saat ini, segala perasaan seolah bercampur aduk. Mulai dari senang, bahagia, tertawa lepas, semuanya tercipta ketika kau melintas dalam bayangan otakku. Aku sangat senang ketika aku harus melakukan segala kegiatan yang menyangkut dan berkaitan denganmu. Meskipun kegiatan yang ada terkadang tidak sesuai dengan keinginan, aku seolah tak perduli, tak ada rasa beban sedikitpun yang muncul dari dalam hati. Semuanya kulakukan demi bisa membuatmu tertawa.
Namun bukan hanya itu, ketika perasaan senang telah menghampiri, ternyata dibelakang hal tersebut ada perasaan lain yang kini malah muncul dan langsung mendominasi kondisi hati. Sedih, gusar, khawatir, dan perasaan-perasaan lain itu kini mulai tumbuh subur dalam lahan yang masih kosong di dalam hati. Perasaan yang telah lama tumbuh diawal berubah menjadi sebuah pohon gersang, kering, dan seolah tidak pernah tersiram sejuknya air. Akupun bingung, kenapa hal ini bisa terjadi ?
Setelah merenung, hati ini mulai menemukan titik permasalahannya. Semuanya bermula karena statemen itu. Sebuah untaian beberapa kalimat yang sebenarnya bermaksud untuk memberikan semangat, rasa simpati, dan juga motivasi malah menjadi suatu bumerang bagi diriku. Bumerang yang justru menimbukan jarak (yang semu) antara kau dan aku. Harus kuakui, ikatan yang tercipta antara kita selama ini memang tidak lebih dari sekedar ikatan fungsional. Kita dipertemukan oleh suatu minat dan tujuan yang sama, sehingga terciptalah kondisi yang seperti sekarang ini.
Akan tetapi aku lupa, bahwa setiap interaksi tentunya akan menghasilkan suatu perasaan yang kapan saja bisa muncul ketika segala sesuatunya berjalan secara rutin. Awalnya hanya sekedar berbincang, lambat laun justru berubah menjadi suatu harmoni yang menyejukkan sanubari. Dan itulah kondisi yang sedang kurasakan saat ini.
Sampai pada akhirnya aku mulai mencoba mengeluarkan ‘sedikit’ keinginan yang mulai muncul dari dalam nurani. Keinginan yang muncul dari sebuah hakekat sebagai makhluk, yang lelah mencari jati diri dan kenyamanan hati. Atas dasar asumsi itulah, aku mulai memberanikan diri untuk mengekspresikan tentang apa yang mulai hadir dalam relung hati. Kucoba untuk sedikit “berkicau”, “bernyanyi”, dan “menjatuhkan diri” kedalam ruang tersebut, sebagai bentuk penyampaian terkait kondisi hati.
Namun, setelah hal itu telah kulakukan. Situasi yang timbul justru menimbulkan suatu kontradiksi dari apa yang kuharapkan sebelumnya. Kau justru berubah dan bahkan menampilkan sosok yang sangat jauh berbeda dengan yang selama ini kukenal. Kau berubah menjadi sesosok yang sangat dingin, kaku, dan bahkan enggan memberikan respon terhadap segala tindakan yang ku lakukan (demi dirimu).
Engkau kini seolah makin jauh, dan sulit untuk kembali, dan Keceriaan serta tawa yang tercipta selama ini pun seolah lenyap tanpa bekas.
Sekarang aku hanya bisa menyesali, dan berharap semua ini seolah tak pernah terjadi. Memang itu hal yang bodoh, menghancurkan seluruh jalinan yang telah tersusun dengan rapi, namun hancur oleh sedikit rasa egois dan mementingkan diri sendiri yang ujung-ujungnya malah merugikan diri sendiri.
Sekarang Aku sadar bahwa terkadang kita jangan memaksakan terciptanya suatu ikatan emosional terhadap ikatan yang seharusnya tercipta berdasarkan fungsional. Sebab itu hanya akan menimbulkan suatu ketegangan, dan melahirkan suatu kondisi bisu yang berkepanjangan. Kini Aku hanya bisa berharap, dan terus berharap semoga engkau segera kembali, dan menjadi dirimu seperti saat pertama kali kutemui...

0 comments:
Post a Comment