“Tampilan Kamu kok berantakan banget sih ? Kamu ga pernah ngaca ya ?...”
Itulah kalimat pertama
yang terucap darimu di hari itu.
“Bukannya
dari dulu tampilan ku emang kayak gini ya ..?
Sahutku menimpali..
“Ya
udah deh, terserah Kamu..”
Begitulah kalimat
terakhir yang kau ucapkan padaku saat itu. Lalu Engkau pun pergi seraya meninggalkanku.
Sebenarnya aku bukanlah
tipe orang yang terlalu mempermasalahkan penampilan. Ketika aku merasa nyaman
dengan apa yang ku kenakan, maka aku tak terlalu memperdulikan tentang apa yang
menjadi pendapat orang.
Anehnya, ketika kalimat
itu mucul darimu, jiwaku seolah tersentak. Aku merasa bingung dan kaku, bahkan
aliran darahku seolah menjadi kacau. Sebuah kalimat yang telah begitu sering
mampir di telingaku, kini seolah menjadi seorang pendatang baru. Seharian aku
merenung dan membayangkan kata-kata darimu, seraya berfikir “apakah benar aku separah itu ?”
Setelah hari itu, akhirnya
ku coba untuk merubah total penampilanku. Kaki yang dulunya hanya beralaskan
sandal jepit yang usang dan burik,
kini telah mendapatkan pasangan baru—merk Adidas. Celana bolong kini berubah
menjadi levis rapi, dan kaos oblong yang dulu setia menemani kini telah
berganti menjadi kemeja (berdasi). Hari itupun aku mencoba melangkahkan kaki
(yang terasa berat) untuk menuju ke cermin, untuk melihat penampilan tersebut.
Aku justru terkejut dan tak percaya. Aku seolah bertemu dengan sosok yang lain,
namun selama ini bersembunyi di dalam diriku.
Sepanjang hari aku
merasa linglung dengan penampilanku saat itu. Aku merasa bahwa ini bukanlah
diriku. Kaki yang dulunya terasa sejuk, kini justru terasa sangat gatal. Celana
levis yang kupakai membuatku sangat tidak leluasa untuk bergerak, dan kemeja
yang kukenakan pun seolah tak mau ketinggalan memerikan salam kepadaku dengan
cara menghadirkan rasa gerah yang luar biasa.
Disaat
kondisi tersebut masih menggelayutiku, aku pun secara tidak sengaja—entahlah
bertemu denganmu. Dan Saat mata ini saling beradu, engkau justru terpaku
dihadapanku. Engkau terdiam dan begitu lama memandangiku, seolah aku merupakan
orang asing bagimu.
“Abis makan apa Kamu semalam ? kok
penampilan Kamu langsung berubah gini ?”
Begitulah
kalimat yang terucap dari mulutmu saat itu. Aku hanya terdiam, menunggu
pernyataan lanjutan yang pasti akan mucul dari mulutmu.
“Sumpah.. Penampilan Kamu beda
banget sob. Aku aja hampir ga kenal ama Kamu. Pakaian, rambut, semuanya rapi
banget. Kalo Aku boleh jujur, Aku suka banget dengan penampilan Kamu yang
sekarang.”
Itulah
kalimat terakhir yang kau ucapkan. Aku masih terdiam. Respon yang dapat
kuberikanpun tak lebih dari sekedar senyuman kecil. Perasaanku begitu kacau.
Semuanya berkumpul dan seolah ingin meluap dalam waktu yang bersamaan. Aku
bingung, dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Kucoba menenangkan diri, seraya
menguasai seluruh isi yang ada di sanubari.
Sejujurnya
aku begitu senang mendengar ucapan itu. Aku merasa bahwa usahaku tidaklah
sia-sia. Dan semenjak hari itu, aku merasa engkau semakin dekat denganku.
Bercanda dan berdua denganmu kini menjadi suatu rutinitas baru dalam
hari-hariku. Ketika bersamamu, aku selalu berharap agar sang waktu menghentikan
pekerjaannya, sampai aku selesai berbincang denganmu.
Semakin
hari, hubungan yang terjalin antara kau dan aku semakin erat. Melewatkan hari
tanpamu seolah menjadi alergi yang datang menyerang tubuhku. Hingga pada
akhirnya aku mulai sadar, bahwa aku mencintaimu. Perasaan yang muncul karena
kau selalu menemani hari-hariku dan selalu ada ketika aku membutuhkanmu.
“mungkin ini aga sedikit ngacok,
tapi hari ini Aku emang harus mengakhiri situasi ini”
“Kamu kenapa ? Kamu gak lagi abis
kejedot pintu terus ilang ingatankan ?”
“Aku jatuh cinta ama Kamu. Sorry kalo
Aku agak sedikit lancang, tapi perasaan ini jujur dan perasaan ini udah ada
semenjak Aku pertama kali ketemu ama Kamu.. “
“Hahaha..”
Itulah
jawaban yang pertama kali keluar dari mulutmu setelah aku mengungkapkan
perasaan itu. Kau tak henti-hentinya tertawa, seolah aku baru saja menampilkan
suatu atraksi sirkus yang berhasil mengocok isi perutmu. Sementara aku justru
kian bingung menanti kalimat apa yang akan terucap setelah tawa itu berhenti.
Setelah puas, engkau mulai menunjukkan raut yang serius. Engkau begitu lama
terdiam, sementara aku gusar menunggu jawaban darimu..
“Masalahnya, Kata-kata
"Aku mencintaimu" itu hanyalah sebuah permulaan. Setelah itu apa yang
terjadi ? terkadang 2 orang yang mengucapkan kata tersebut sering tidak bisa
mengatasi "3 kata" ini...”
Kau mengucapkan kalimat-kalimat tersebut seraya tak
berhenti menatapku. Begitu lama suasana menjadi hening.
“Namun harus
kuakui bahwa akupun mempunyai perasaan yang sama denganmu. Aku jatuh cinta
melihat sikap dan caramu memperlakukanku selama ini. Aku belum pernah merasakan kesejukan di dalam hati,
kecuali saat aku bersamamu. Berjanjilah padaku bahwa engkau akan mempertanggung
jawabkan “3 kata” yang kau ucapkan itu. I love You too..”
Aku
terkejut mendengar pernyataan tersebut. Secara tidak sadar dan perlahan aku
mulai mendekatimu, hingga pada akhirnya aku terhenti ketika aku berhasil
merangkul tubuhmu..
“3 kata itu tidak hanya akan
kujadikan tanggung jawabku, tetapi sekaligus lentera penghubung antara jiwaku
dan jiwamu”
Itulah
jawabanku, atas komitmen yang kau minta dariku.

0 comments:
Post a Comment