Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Thursday, 21 November 2013

Itulah Jawabanku







Tampilan Kamu kok berantakan banget sih ? Kamu ga pernah ngaca ya ?...”
Itulah kalimat pertama yang terucap darimu di hari itu.

“Bukannya dari dulu tampilan ku emang kayak gini ya ..?
Sahutku menimpali..

“Ya udah deh, terserah Kamu..”
Begitulah kalimat terakhir yang kau ucapkan padaku saat itu. Lalu Engkau pun pergi seraya meninggalkanku.


Sebenarnya aku bukanlah tipe orang yang terlalu mempermasalahkan penampilan. Ketika aku merasa nyaman dengan apa yang ku kenakan, maka aku tak terlalu memperdulikan tentang apa yang menjadi pendapat orang.

Anehnya, ketika kalimat itu mucul darimu, jiwaku seolah tersentak. Aku merasa bingung dan kaku, bahkan aliran darahku seolah menjadi kacau. Sebuah kalimat yang telah begitu sering mampir di telingaku, kini seolah menjadi seorang pendatang baru. Seharian aku merenung dan membayangkan kata-kata darimu, seraya berfikir “apakah benar aku separah itu ?”

Setelah hari itu, akhirnya ku coba untuk merubah total penampilanku. Kaki yang dulunya hanya beralaskan sandal jepit yang usang dan burik, kini telah mendapatkan pasangan baru—merk Adidas. Celana bolong kini berubah menjadi levis rapi, dan kaos oblong yang dulu setia menemani kini telah berganti menjadi kemeja (berdasi). Hari itupun aku mencoba melangkahkan kaki (yang terasa berat) untuk menuju ke cermin, untuk melihat penampilan tersebut. Aku justru terkejut dan tak percaya. Aku seolah bertemu dengan sosok yang lain, namun selama ini bersembunyi di dalam diriku.

Sepanjang hari aku merasa linglung dengan penampilanku saat itu. Aku merasa bahwa ini bukanlah diriku. Kaki yang dulunya terasa sejuk, kini justru terasa sangat gatal. Celana levis yang kupakai membuatku sangat tidak leluasa untuk bergerak, dan kemeja yang kukenakan pun seolah tak mau ketinggalan memerikan salam kepadaku dengan cara menghadirkan rasa gerah yang luar biasa.

Disaat kondisi tersebut masih menggelayutiku, aku pun secara tidak sengaja—entahlah bertemu denganmu. Dan Saat mata ini saling beradu, engkau justru terpaku dihadapanku. Engkau terdiam dan begitu lama memandangiku, seolah aku merupakan orang asing bagimu.

“Abis makan apa Kamu semalam ? kok penampilan Kamu langsung berubah gini ?”
Begitulah kalimat yang terucap dari mulutmu saat itu. Aku hanya terdiam, menunggu pernyataan lanjutan yang pasti akan mucul dari mulutmu.

“Sumpah.. Penampilan Kamu beda banget sob. Aku aja hampir ga kenal ama Kamu. Pakaian, rambut, semuanya rapi banget. Kalo Aku boleh jujur, Aku suka banget dengan penampilan Kamu yang sekarang.”
Itulah kalimat terakhir yang kau ucapkan. Aku masih terdiam. Respon yang dapat kuberikanpun tak lebih dari sekedar senyuman kecil. Perasaanku begitu kacau. Semuanya berkumpul dan seolah ingin meluap dalam waktu yang bersamaan. Aku bingung, dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Kucoba menenangkan diri, seraya menguasai seluruh isi yang ada di sanubari.

Sejujurnya aku begitu senang mendengar ucapan itu. Aku merasa bahwa usahaku tidaklah sia-sia. Dan semenjak hari itu, aku merasa engkau semakin dekat denganku. Bercanda dan berdua denganmu kini menjadi suatu rutinitas baru dalam hari-hariku. Ketika bersamamu, aku selalu berharap agar sang waktu menghentikan pekerjaannya, sampai aku selesai berbincang denganmu.

Semakin hari, hubungan yang terjalin antara kau dan aku semakin erat. Melewatkan hari tanpamu seolah menjadi alergi yang datang menyerang tubuhku. Hingga pada akhirnya aku mulai sadar, bahwa aku mencintaimu. Perasaan yang muncul karena kau selalu menemani hari-hariku dan selalu ada ketika aku membutuhkanmu.

“mungkin ini aga sedikit ngacok, tapi hari ini Aku emang harus mengakhiri situasi ini”

“Kamu kenapa ? Kamu gak lagi abis kejedot pintu terus ilang ingatankan ?”

“Aku jatuh cinta ama Kamu. Sorry kalo Aku agak sedikit lancang, tapi perasaan ini jujur dan perasaan ini udah ada semenjak Aku pertama kali ketemu ama Kamu.. “

“Hahaha..”  
Itulah jawaban yang pertama kali keluar dari mulutmu setelah aku mengungkapkan perasaan itu. Kau tak henti-hentinya tertawa, seolah aku baru saja menampilkan suatu atraksi sirkus yang berhasil mengocok isi perutmu. Sementara aku justru kian bingung menanti kalimat apa yang akan terucap setelah tawa itu berhenti. Setelah puas, engkau mulai menunjukkan raut yang serius. Engkau begitu lama terdiam, sementara aku gusar menunggu jawaban darimu..

“Masalahnya, Kata-kata "Aku mencintaimu" itu hanyalah sebuah permulaan. Setelah itu apa yang terjadi ? terkadang 2 orang yang mengucapkan kata tersebut sering tidak bisa mengatasi "3 kata" ini...”
Kau mengucapkan kalimat-kalimat tersebut seraya tak berhenti menatapku. Begitu lama suasana menjadi hening.

“Namun harus kuakui bahwa akupun mempunyai perasaan yang sama denganmu. Aku jatuh cinta melihat sikap dan caramu memperlakukanku selama ini. Aku  belum pernah merasakan kesejukan di dalam hati, kecuali saat aku bersamamu. Berjanjilah padaku bahwa engkau akan mempertanggung jawabkan “3 kata” yang kau ucapkan itu. I love You too..”
Aku terkejut mendengar pernyataan tersebut. Secara tidak sadar dan perlahan aku mulai mendekatimu, hingga pada akhirnya aku terhenti ketika aku berhasil merangkul tubuhmu..

“3 kata itu tidak hanya akan kujadikan tanggung jawabku, tetapi sekaligus lentera penghubung antara jiwaku dan jiwamu”
Itulah jawabanku, atas komitmen yang kau minta dariku.

0 comments:

Post a Comment