“Yang kubutuhkan sekarang hanyalah
waktu untuk sendiri, jadi kuharap engkau dapat mengerti..”
Kata-kata itu begitu jelas terdengar ditelingaku.
Sepenggal kalimat yang singkat, namun begitu mengusik suasana hati. Hingga
akhirnya dengan berat hati akupun melangkahkan kaki. Meninggalkanmu sendiri,
dan menuruti apa yang kau ucapkan.
Aku tahu betul sifat dan juga
karaktermu. Kau adalah sosok yang begitu kuat dan sangat sulit untuk menyerah.
Tak jarang engkau lupa akan kodratmu sebagai wanita—lembut, santun, dan perasa.
Akan tetapi, kejadian itu seolah merubah seluruh kepribadianmu. Seluruh usaha
yang kau lakukan seolah sirna begitu saja ketika tak seorangpun ada yang peduli
dengan apa yang kau mau.
Harus kuakui engkau adalah sosok yang
begitu aku kagumi. Masih teringat dengan jelas saat aku pertama kali bertatap
denganmu—tiga tahun yang lalu. Engkau adalah sosok wanita yang begitu
sederhana, namun mampu memberikan pengaruh yang luar biasa, terutama
terhadapku. Pada awalnya, perkenalan denganmu hanya kuanggap sebagi hal yang
biasa. Namun siapa sangka bahwa goresan takdir menginginkan hal yang berbeda. Masa
orientasi kampus yang begitu panjang dan melelahkan adalah saat pertama kalinya
aku mengenalmu.
“Boleh aku meminta airmu, aku
benar-benar haus..”
Itulah
kata-kata pertama yang kuucapkan kepadamu.
“Tentu. Silahkan ambil saja..”
Kau
memberikan botol air minummu kepadaku seraya tersenyum. Kuteguk air itu hampir
habis semuanya. Lalu setelah puas, air itu kukembalikan lagi kepadamu.
“Terima kasih..”
“Ngga usah sungkan..”
Aku
membalas perkataanmu dengan sedikit senyuman.
“Oh iya. Namaku Azhar..”
Kau
lantas tersenyum heran. Seraya memasukkan botol minum tadi ke dalam tasmu.
“Aku Mutia”
Itulah
awal perkenalanku denganmu. Perkenalan yang begitu singkat. Hingga tak masuk
akal rasanya ketika membayangkan bahwa diriku begitu cepat nyambung ketika berbincang denganmu. Namun itulah kenyataannya. Bahkan
hari itu kuhabiskan dengan tak henti-hentinya bercerita denganmu. Entah apa
yang membuatku betah, namun ketika aku berbicara dan bercerita denganmu, aku
seolah tak ada rasa lelah. Aku begitu menikmati setiap runutan pembicaraan
kita, hingga akhirnya senja menjelang.
Semenjak
aku mengenalmu—dihari itu, aku semakin paham seluruh watak dan juga sifatmu.
Kau adalah sosok yang begitu teguh namun periang, serius namun mampu
menghadirkan tawa, serta perasa namun tak mudah kecewa. Ketika di kampus, kau
mengikuti kegiatan organisasi yang sangat menuntut untuk kerja keras dan harus
sering turun ke lapangan. Tak jarang kau tidak masuk kuliah gara-gara tuntutan
organisasimu. Dan ketika aku melihat hal tersebut, tak ada sedikitpun rasa
sesal yang tersirat dari raut wajahmu.
Setelah
sekian waktu berlalu, tak terasa sekarang adalah tahun ketiga kita berada di
kampus. Kau (masih) tetap dengan rutinitasmu yang begitu sibuk dengan dunia organisasimu. Bahkan
ditahun ini kau mendapat kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai Project Officer acara penyambutan
mahasiswa baru di kampus kita. Sehingga dapat dibayangkan betapa sibuknya
engkau demi mempersiapkan pencalonan tersebut. Berhari-hari engkau selalu
berada di kampus. Hingga tak pulang ke rumah menjadi rutinitas tambahan baru
bagimu.
Selama
proses persiapanmu itu, aku selalu berusaha untuk memberikan sumbangsih
semampuku. Setiap harinya kau dan aku selalu sibuk “memperkenalkan diri” kepada
teman-teman kampus yang lain. Seraya mengajak mereka untuk bisa satu pemahaman
denganmu. Selama itu, sekali lagi tak kutemukan rasa bosan ketika aku mampu
membantu keinginanmu. Bahkan setelah seluruh rangkaian dan proses telah
diikuti, aku begitu senang sebab aku tetap menemukan kecerahan dari raut
wajahmu. Tak ada raut wajah gelisah sedikitpun, yang ada hanya rasa puas sebab
semuanya telah kau selesaikan.
Hingga
pada akhirnya proses pemilihan Project
Officer tersebut memasuki babak puncaknya. Hari itu merupakan pengumuman
hasil dari pemilihan yang telah dilakukan. Engkau begitu berdebar, menanti
hasil tersebut. Begitupun denganku. Akan tetapi, meskipun aku sadar betul bahwa
engkau gelisah, kau tetap saja menampilkan wajah yang begitu riang. Kau tetap semangat
dan seolah siap menerima segala hasil yang akan terjadi.
“Mut, mutia.. Kau sudah
melihat pengumumannya ?”
Seseorang
menyapa dirimu ketika kau dan aku sedang asik mengobrol.
“Memangnya sudah diumumkan
? aku belum melihatnya. Bagaimana hasilnya ?”
Respon
yang kau berikan begitu cepat ketika kau mendengar ucapan tersebut.
“Hampir mut, hampir
saja kau menang. Tapi kau kalah dalam perolehan suara. Angkamu beda sangat
tipis dengan suara tertinggi”
Itulah
kalimat yang diucapkan oleh temanku. Mendengar kata-kata tersebut. Raut wajahmu
seketika berubah. Senyuman manis yang dari tadi mengiringi setiap perkataanmu
lenyap tak berbekas. Kau langsung terduduk lesu dan masih tak percaya dengan
apa yang barusan kau dengar. Orang yang menghampirimu tadipun mulai
meniggalkanmu. Hingga akhirnya yang tersisanya saat itu hanyalah kau dan aku.
Aku terdiam dan beku melihat kondisimu. Tak pernah sekalipun aku melihat raut
wajahmu semurung itu. Begitu lama kita terdiam membisu, bahkan akupun tak
berani untuk memulai berbicara denganmu. Hingga pada akhirnya kebisuan itupun
pecah.
“Azhar.. Izinkan aku
untuk sendiri. Sekarang aku tak ingin ada seorangpun yang menggangguku”
Aku
terkejut mendengar kata-kata itu. Aku tak mengira bahwa kata-kata itu akan
terucap dari mulutmu. Sampai beberapa saat aku masih terpaku. Namun aku segera
sadar dan mengikuti apa yang kau katakan.
Perlahan
kulangkahkan kaki. Aku mulai menjauh meninggalkanmu sendiri . Dan semakin jauh
kulangkahkan kaki, ketika itu semakin keras teligaku mendengar suara
sesenggukan—yang berasal darimu. Kenyataan itu membuatmu begitu terpukul. Kau
begitu larut dalam kesedihanmu. Bahkan semenjak hari itu tak pernah kutemui
senyuman dan keceriaan yang dulu selalu kau bawa disetiap hari-harimu. Kau
begitu kecewa dengan kenyataan bahwa ternyata kau belum sepenuhnya mendapat
kepercayaan dari lingkungan sekitarmu.
Namun
disini, aku tetaplah diriku yang dulu. Tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku untuk meragukan apa yang
ada pada dirimu. Aku yakin bahwa engkau akan kembali, menjadi sosok tangguh
yang selama ini kukenal. Dan sampai saat itu tiba, aku akan tetap disini serta
sabar menanti kembalinya dirimu (yang dulu). Segeralah kembali ! karena aku
merindukan sosok dirimu seperti yang dulu.

0 comments:
Post a Comment