Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Friday, 22 November 2013

Segeralah Kembali




“Yang kubutuhkan sekarang hanyalah waktu untuk sendiri, jadi kuharap engkau dapat mengerti..”
 Kata-kata  itu begitu jelas terdengar ditelingaku. Sepenggal kalimat yang singkat, namun begitu mengusik suasana hati. Hingga akhirnya dengan berat hati akupun melangkahkan kaki. Meninggalkanmu sendiri, dan menuruti apa yang kau ucapkan.


Aku tahu betul sifat dan juga karaktermu. Kau adalah sosok yang begitu kuat dan sangat sulit untuk menyerah. Tak jarang engkau lupa akan kodratmu sebagai wanita—lembut, santun, dan perasa. Akan tetapi, kejadian itu seolah merubah seluruh kepribadianmu. Seluruh usaha yang kau lakukan seolah sirna begitu saja ketika tak seorangpun ada yang peduli dengan apa yang kau mau.

Harus kuakui engkau adalah sosok yang begitu aku kagumi. Masih teringat dengan jelas saat aku pertama kali bertatap denganmu—tiga tahun yang lalu. Engkau adalah sosok wanita yang begitu sederhana, namun mampu memberikan pengaruh yang luar biasa, terutama terhadapku. Pada awalnya, perkenalan denganmu hanya kuanggap sebagi hal yang biasa. Namun siapa sangka bahwa goresan takdir menginginkan hal yang berbeda. Masa orientasi kampus yang begitu panjang dan melelahkan adalah saat pertama kalinya aku mengenalmu.

“Boleh aku meminta airmu, aku benar-benar haus..”

Itulah kata-kata pertama yang kuucapkan kepadamu.

“Tentu. Silahkan ambil saja..”  

Kau memberikan botol air minummu kepadaku seraya tersenyum. Kuteguk air itu hampir habis semuanya. Lalu setelah puas, air itu kukembalikan lagi kepadamu.

“Terima kasih..”

“Ngga usah sungkan..”

Aku membalas perkataanmu dengan sedikit senyuman.

“Oh iya. Namaku Azhar..”

Kau lantas tersenyum heran. Seraya memasukkan botol minum tadi ke dalam tasmu.

“Aku Mutia”
Itulah awal perkenalanku denganmu. Perkenalan yang begitu singkat. Hingga tak masuk akal rasanya ketika membayangkan bahwa diriku begitu cepat nyambung ketika berbincang denganmu. Namun itulah kenyataannya. Bahkan hari itu kuhabiskan dengan tak henti-hentinya bercerita denganmu. Entah apa yang membuatku betah, namun ketika aku berbicara dan bercerita denganmu, aku seolah tak ada rasa lelah. Aku begitu menikmati setiap runutan pembicaraan kita, hingga akhirnya senja menjelang.
Semenjak aku mengenalmu—dihari itu, aku semakin paham seluruh watak dan juga sifatmu. Kau adalah sosok yang begitu teguh namun periang, serius namun mampu menghadirkan tawa, serta perasa namun tak mudah kecewa. Ketika di kampus, kau mengikuti kegiatan organisasi yang sangat menuntut untuk kerja keras dan harus sering turun ke lapangan. Tak jarang kau tidak masuk kuliah gara-gara tuntutan organisasimu. Dan ketika aku melihat hal tersebut, tak ada sedikitpun rasa sesal yang tersirat dari raut wajahmu.
Setelah sekian waktu berlalu, tak terasa sekarang adalah tahun ketiga kita berada di kampus. Kau (masih) tetap dengan rutinitasmu yang begitu sibuk dengan dunia organisasimu. Bahkan ditahun ini kau mendapat kesempatan untuk mencalonkan diri sebagai Project Officer acara penyambutan mahasiswa baru di kampus kita. Sehingga dapat dibayangkan betapa sibuknya engkau demi mempersiapkan pencalonan tersebut. Berhari-hari engkau selalu berada di kampus. Hingga tak pulang ke rumah menjadi rutinitas tambahan baru bagimu.
Selama proses persiapanmu itu, aku selalu berusaha untuk memberikan sumbangsih semampuku. Setiap harinya kau dan aku selalu sibuk “memperkenalkan diri” kepada teman-teman kampus yang lain. Seraya mengajak mereka untuk bisa satu pemahaman denganmu. Selama itu, sekali lagi tak kutemukan rasa bosan ketika aku mampu membantu keinginanmu. Bahkan setelah seluruh rangkaian dan proses telah diikuti, aku begitu senang sebab aku tetap menemukan kecerahan dari raut wajahmu. Tak ada raut wajah gelisah sedikitpun, yang ada hanya rasa puas sebab semuanya telah kau selesaikan.
Hingga pada akhirnya proses pemilihan Project Officer tersebut memasuki babak puncaknya. Hari itu merupakan pengumuman hasil dari pemilihan yang telah dilakukan. Engkau begitu berdebar, menanti hasil tersebut. Begitupun denganku. Akan tetapi, meskipun aku sadar betul bahwa engkau gelisah, kau tetap saja menampilkan wajah yang begitu riang. Kau tetap semangat dan seolah siap menerima segala hasil yang akan terjadi.
“Mut, mutia.. Kau sudah melihat pengumumannya ?”
Seseorang menyapa dirimu ketika kau dan aku sedang asik mengobrol.
“Memangnya sudah diumumkan ? aku belum melihatnya. Bagaimana hasilnya ?”
Respon yang kau berikan begitu cepat ketika kau mendengar ucapan tersebut.
“Hampir mut, hampir saja kau menang. Tapi kau kalah dalam perolehan suara. Angkamu beda sangat tipis dengan suara tertinggi”
Itulah kalimat yang diucapkan oleh temanku. Mendengar kata-kata tersebut. Raut wajahmu seketika berubah. Senyuman manis yang dari tadi mengiringi setiap perkataanmu lenyap tak berbekas. Kau langsung terduduk lesu dan masih tak percaya dengan apa yang barusan kau dengar. Orang yang menghampirimu tadipun mulai meniggalkanmu. Hingga akhirnya yang tersisanya saat itu hanyalah kau dan aku. Aku terdiam dan beku melihat kondisimu. Tak pernah sekalipun aku melihat raut wajahmu semurung itu. Begitu lama kita terdiam membisu, bahkan akupun tak berani untuk memulai berbicara denganmu. Hingga pada akhirnya kebisuan itupun pecah.
“Azhar.. Izinkan aku untuk sendiri. Sekarang aku tak ingin ada seorangpun yang menggangguku”
Aku terkejut mendengar kata-kata itu. Aku tak mengira bahwa kata-kata itu akan terucap dari mulutmu. Sampai beberapa saat aku masih terpaku. Namun aku segera sadar dan mengikuti apa yang kau katakan.
Perlahan kulangkahkan kaki. Aku mulai menjauh meninggalkanmu sendiri . Dan semakin jauh kulangkahkan kaki, ketika itu semakin keras teligaku mendengar suara sesenggukan—yang berasal darimu. Kenyataan itu membuatmu begitu terpukul. Kau begitu larut dalam kesedihanmu. Bahkan semenjak hari itu tak pernah kutemui senyuman dan keceriaan yang dulu selalu kau bawa disetiap hari-harimu. Kau begitu kecewa dengan kenyataan bahwa ternyata kau belum sepenuhnya mendapat kepercayaan dari lingkungan sekitarmu.
Namun disini, aku tetaplah diriku yang dulu. Tak pernah sedikitpun  terlintas dalam benakku untuk meragukan apa yang ada pada dirimu. Aku yakin bahwa engkau akan kembali, menjadi sosok tangguh yang selama ini kukenal. Dan sampai saat itu tiba, aku akan tetap disini serta sabar menanti kembalinya dirimu (yang dulu). Segeralah kembali ! karena aku merindukan sosok dirimu seperti yang dulu.

0 comments:

Post a Comment