Juni
2014
“Ngga tau kenapa, hari ini aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku
coba membongkar memori yang telah kusimpan rapi ditempatnya. Ahh... ternyata memang ada sesuatu yang
berharga. Bahkan sesuatu yang sakral. Aku ingat bahwa pada hari ini, tepat 19
tahun yang lalu Tuhan menganugerahi dunia ini sosok yang lembut dan sendu
bernama engkau. Maafkan aku, maaf atas kealpaanku dalam mengingat ini. Dan
untuk itu, izinkan aku menulis kalimat yang sejatinya itu biasa. Namun bagiku,
engkaulah yang membuat kalimat ini menjadi luar biasa. “Selamat ulang tahun, selamat tanggal dua..”
April 2015
Aku
harus berterima kasih kepada April. Ini adalah pertama kalinya semenjak hari
itu, hari disaat aku memberikan ucapan selamat atas hari kelahiranmu. Sebuah
ucapan yang saat itu tak lebih dari sebuah tiket agar bisa masuk ke ruang baca
tentangmu.
Ternyata,
april yang memaksaku (?) untuk kembali memanggilmu. Aku kembali memberanikan
hati untuk menulis, karena hanya dengan ini, hati mampu bersuara. Memberanikan
hati untuk meluapkan segala rasa, tentang makna engkau dalam alur ceritanya.
Tuhan
menciptakan perpisahan tentu bukan tanpa alasan, setidaknya itulah yang mampu
membuatku yakin untuk menatapmu meski dari kejauhan —sangat jauh, bahkan. Aku
menolak untuk lelap dan bermunajat kepada Tuhan agar Dia menjadikan “Kita”. Aku
mencintaimu dari kejauhan, yang semuanya tersimpan rapi dalam satu makna yang
kusebut “harapan”
***
“Apa kabar.. ?” itulah yang membuat
kebisuan antara kita pecah setelah sekian lama. Aku memulainya dengan perasaan
yang masih sama, menikmati ketidaktentuan harapan. Sepuluh bulan setelah pesan
singkat di hari ulang tahunmu, ini adalah kali pertama aku kembali
menghubungimu.
Tidak
banyak berubah tentangmu. Respon yang kau berikan selalu mampu membuatku
semakin bertanya tentangku di benakmu. Aku selalu menunggu jawaban yang
antusias darimu untuk tahu tentangku. Tapi harus kuakui, aku belum pernah
sampai pada ujung penantian itu. Aku terlalu menikmati luka ini, dengan segala
kepahitan dan keperihan disetiap detiknya. Aku menyadari bahwa untuk
mencintaimu, harus ada kerelaan yang kuat serta penantian panjang yang tak bergaransi dengan nama kepastian. Dan sadarkah engkau ? semenjak rasa ini
berkembang dengan semaunya—meskipun belum pernah menjadi kata, aku disini masih
tetap sama. Berharap agar engkau bisa menjadi sosok yang tergenggam seutuhnya.

2 tahun kak ...
ReplyDeleteDan aku masih belum bisa untuk melepas , maaf ....