Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Wednesday, 29 April 2015

Terima Kasih, April



Juni 2014

Ngga tau kenapa, hari ini aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Aku coba membongkar memori yang telah kusimpan rapi ditempatnya. Ahh... ternyata memang ada sesuatu yang berharga. Bahkan sesuatu yang sakral. Aku ingat bahwa pada hari ini, tepat 19 tahun yang lalu Tuhan menganugerahi dunia ini sosok yang lembut dan sendu bernama engkau. Maafkan aku, maaf atas kealpaanku dalam mengingat ini. Dan untuk itu, izinkan aku menulis kalimat yang sejatinya itu biasa. Namun bagiku, engkaulah yang membuat kalimat ini menjadi luar biasa. “Selamat ulang tahun, selamat tanggal dua..”


April 2015
Aku harus berterima kasih kepada April. Ini adalah pertama kalinya semenjak hari itu, hari disaat aku memberikan ucapan selamat atas hari kelahiranmu. Sebuah ucapan yang saat itu tak lebih dari sebuah tiket agar bisa masuk ke ruang baca tentangmu.
Ternyata, april yang memaksaku (?) untuk kembali memanggilmu. Aku kembali memberanikan hati untuk menulis, karena hanya dengan ini, hati mampu bersuara. Memberanikan hati untuk meluapkan segala rasa, tentang makna engkau dalam alur ceritanya.
Tuhan menciptakan perpisahan tentu bukan tanpa alasan, setidaknya itulah yang mampu membuatku yakin untuk menatapmu meski dari kejauhan —sangat jauh, bahkan. Aku menolak untuk lelap dan bermunajat kepada Tuhan agar Dia menjadikan “Kita”. Aku mencintaimu dari kejauhan, yang semuanya tersimpan rapi dalam satu makna yang kusebut “harapan”
***
Apa kabar.. ?” itulah yang membuat kebisuan antara kita pecah setelah sekian lama. Aku memulainya dengan perasaan yang masih sama, menikmati ketidaktentuan harapan. Sepuluh bulan setelah pesan singkat di hari ulang tahunmu, ini adalah kali pertama aku kembali menghubungimu.
Tidak banyak berubah tentangmu. Respon yang kau berikan selalu mampu membuatku semakin bertanya tentangku di benakmu. Aku selalu menunggu jawaban yang antusias darimu untuk tahu tentangku. Tapi harus kuakui, aku belum pernah sampai pada ujung penantian itu. Aku terlalu menikmati luka ini, dengan segala kepahitan dan keperihan disetiap detiknya. Aku menyadari bahwa untuk mencintaimu, harus ada kerelaan yang kuat serta penantian panjang yang tak  bergaransi dengan nama kepastian. Dan sadarkah engkau ? semenjak rasa ini berkembang dengan semaunya—meskipun belum pernah menjadi kata, aku disini masih tetap sama. Berharap agar engkau bisa menjadi sosok yang tergenggam seutuhnya.

1 comment:

  1. 2 tahun kak ...
    Dan aku masih belum bisa untuk melepas , maaf ....

    ReplyDelete