Saat aku menulis surat ini —untukmu, aku masih belum
memutuskan apakah aku akan mengirimnya kepadamu. Maaf, sebab dalam semesta
pikirku, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinan yang muncul hingga akhirnya
keputusan yang ku ambil belum menemui ujung.
Jika kau ada waktu, silahkan buka kembali lembaran
surat-surat —tak terkirim— yang kutulis sebelum ini untukmu. Mungkin, dengan
itu kau akan menemukan alasan, mengapa pada akhirnya surat-surat ini tak kunjung
sampai ke kotak pesanmu.
Keberanian terbesarku hanya mampu mengekspresikanmu
dalam aksara. Saat mendengar namamu, aku takperpernah kehabisan diksi untuk
mempuisikan keindahanmu yang paripurna. Saat melihat teduh matamu, aku seolah
tersirap mantera pusaka untuk merekam sirat bahagia dari kedua bola mata yang
kau punya.
Suatu kali,
Aku pun pernah menemukanmu terkapar dalam sepi.
Mengetahui bahwa suatu yang kau anggap perihal baik bagimu, pergi meninggalkan
sekaligus menanggalkan bahagiamu.
Dan aku, saat itu —sebetulnya hingga saat ini— masih
saja terlalu pengecut untuk berkata jujur sembari memilih untuk berjalan mundur
teratur. Menduga banyak alasan hingga aku alpa bila takseharusnya aku bersikap
demikan. Walau sebenarnya sudah kulakukan, ya?
Bagiku, terlalu prematur untuk meminta suatu yang
lebih kepadamu. Sehingga dianggap sekedar teman yang tetap kau perhatikan saja, telah lebih cukup untuk membuatku bahagia.
***
Kini, Juni hari kedua datang kembali. Artinya,
sekali lagi engkau menggenapi perjalananmu dalam mengitari matahari.
Tak ada kado, tak ada karangan bunga yang akan
kutitipkan kepada kantor pos untuk mengantarkan ke pintu rumahmu. Hanya ada
sebuah piksel tentang diri dan senyummu.
Dengan sebuah pesan ; Melangkahlah. Lalu lihat sekitar yang peduli dengan bahagia sekaligus
dukamu.
Selamat Ulang Tahun, Nona.
.
.

Aku lelah kak
ReplyDeleteJiwaku melalang buana
Berlari nun juah namun kembali ditarik hingga ke pusatnya.
Bolehkah aku ikut dengan mu kak ?
"berlari nun jauh namun
ReplyDelete