Dalam ruang terbatas
sekaligus tak berbatas, barangkali kau hanya belum tahu bila ada seseorang yang
begitu bahagia saat kau membuat story
di akun media sosialmu. Selalu menanti dan melihat seperti apa aktifitas
terbarumu, tetapi berupaya sekuat tenaga untuk menahan jemarinya ―enggan
berkomentar untuk alasan yang entah bisa disebut apa.
Namun di saat yang sama, ia mengucap syukur disertai rekah senyum saat tahu bila ternyata dirimu masih ada dan tetap baik-baik saja.
Dalam ruang
terpisah―oleh jarak dan waktu, atau mungkin oleh keberanian yang masih memendam
dan menahan, barangkali ada seseorang yang sengaja membuat story tentang segala suatu yang ―ia harap― begitu engkau suka.
Sembari menanti dengan debar supaya dirimu melihatnya. Dan saat namamu
benar-benar ia temui dalam daftar orang-orang yang melihat story-nya, ia begitu
bahagia tak terkira. Bahagia tak terkira meskipun engkau tak meninggalkan pesan
apapun dalam kolom komentarnya.
Namun di saat yang sama, ia mengucap syukur disertai rekah senyum saat tahu bila ternyata dirimu masih ada dan tetap baik-baik saja.
Sepertinya, kita mesti
berterima kasih kepada mereka yang telah menemukan aplikasi semacam ini. Kevin
Systrom dan Mike Krieger yang telah melahirkan Instagram, misalnya.
Menciptakan fitur story yang telah menyelamatkan orang-orang dengan sedikit keberanian, namun memendam rindu dan harapan. Menyelamatkan orang-orang yang enggan jujur terhadap perasaan. Menyelamatkan orang-orang yang masih saja menunggu untuk memulai.
.
.
.
.
.
Menyelamatkanku yang
hingga kini tetap memilih diam. Memperhatikanmu namun tetap memilih
bungkam.

Kak dedy :'(
ReplyDeleteSekarang udah bahagia yaa kak di jannah-Nya :))
ReplyDelete