Sekedar Cerita, Untuk Mengenang Perjalanan Asa


Sunday, 1 July 2018

Batas Tak Berbatas




Dalam ruang terbatas sekaligus tak berbatas, barangkali kau hanya belum tahu bila ada seseorang yang begitu bahagia saat kau membuat story di akun media sosialmu. Selalu menanti dan melihat seperti apa aktifitas terbarumu, tetapi berupaya sekuat tenaga untuk menahan jemarinya ―enggan berkomentar untuk alasan yang entah bisa disebut apa. 

Namun di saat yang sama, ia mengucap syukur disertai rekah senyum saat tahu bila ternyata dirimu masih ada dan tetap baik-baik saja.

Dalam ruang terpisah―oleh jarak dan waktu, atau mungkin oleh keberanian yang masih memendam dan menahan, barangkali ada seseorang yang sengaja membuat story tentang segala suatu yang ―ia harap― begitu engkau suka. Sembari menanti dengan debar supaya dirimu melihatnya. Dan saat namamu benar-benar ia temui dalam daftar orang-orang yang melihat story-nya, ia begitu bahagia tak terkira. Bahagia tak terkira meskipun engkau tak meninggalkan pesan apapun dalam kolom komentarnya.   

Namun di saat yang sama, ia mengucap syukur disertai rekah senyum saat tahu bila ternyata dirimu masih ada dan tetap baik-baik saja.

Sepertinya, kita mesti berterima kasih kepada mereka yang telah menemukan aplikasi semacam ini. Kevin Systrom dan Mike Krieger yang telah melahirkan Instagram, misalnya. 

Menciptakan fitur story yang telah menyelamatkan orang-orang dengan sedikit keberanian, namun memendam rindu dan harapan. Menyelamatkan orang-orang yang enggan jujur terhadap perasaan. Menyelamatkan orang-orang yang masih saja menunggu untuk memulai.
.
.
.
.
.
Menyelamatkanku yang hingga kini tetap memilih diam. Memperhatikanmu namun tetap memilih bungkam.

2 comments: